Page 390 - Konstitusionalisme Agraria
P. 390

Hukum Adat Kenegerian Kuntu berada terdapat Peraturan Daerah
            Kabupaten Kampar No. 12 Tahun 1999 tentang Hak Tanah Ulayat.
            Perda itu mengatur tentang hak tanah ulayat secara umum, tidak
            secara khusus menentukan bahwa Masyarakat Kenegerian Kuntu
            sebagai masyarakat hukum adat. Demikian pula pada Masyarakat
            Hukum adat Kasepuhan Cisitu yang dasar pengakuan keberadaannya
            juga bukan Perda, melainkan Surat Keputusan Bupati Lebak Nomor
            430/Kep.318/Disporabudpar/2010 tentang Pengakuan Keberadaan
            Masyarakat Adat Cisitu Kesatuan Sesepuh Adat Cisitu Banten Kidul
            Di Kabupaten Lebak.
                 Penilaian Mahkamah Konstitusi bahwa kedua komunitas
            tersebut memenuhi kualifikasi sebagai masyarakat hukum adat
            sebagai pemohon adalah yang pertama kalinya dalam sejarah
            pengujian undang-undang di hadapan Mahkamah Konstitusi.
            Penerimaan itu pun merupakan suatu bentuk pengakuan hukum yang
            dilakukan oleh pengadilan terhadap keberadaan masyarakat hukum
            adat. Oleh karena itu, ketentuan dalam Pasal 67 UU Kehutanan yang
            menyatakan bahwa Perda sebagai alas hukum untuk menentukan
            status hukum masyarakat hukum adat harus dibaca sebagai salah
            satu jenis alas hukum. Sehingga Perda bukanlah alas hukum satu-
            satunya, sebab dalam praktik, pengakuan terhadap keberadaan
            masyarakat hukum adat juga dilakukan dengan keputusan bupati,
            bahkan dengan putusan pengadilan sebagaimana dilakukan oleh
            Mahkamah Konstitusi dalam perkara ini (Arizona, dkk, 2013).
                 Tidak saja menegaskan keberadaan masyarakat adat sebagai
            subjek hukum, sejumlah putusan Mahkamah Konstitusi lainnya juga
            melindungi hak-hak masyarakat adat. Dalam putusan perkara No.
            45/PUU-IX/2011 mengenai pengujian UU Kehutanan, Mahkamah
            Konstitusi menegaskan bahwa pengukuhan kawasan hutan harus
            memperhatikan keberadaan hak individu dan hak ulayat yang akan
            yang berpotensi dirugikan karena proses pengukuhan kawasan
            hutan. Memperhatikan hak masyarakat adat itu artinya adalah
            bahwa dalam proses pengukuhan kawasan hutan, harus dilakukan
            berdasarkan persetujuan dari pihak yang berpotensi dirugikan




                                      Konstitusi Agraria dan Mahkamah Konstitusi     359
   385   386   387   388   389   390   391   392   393   394   395