Page 385 - Konstitusionalisme Agraria
P. 385

dasar konstitusional yang paling sering dirujuk ketika membicarakan
            keberadaan dan hak-hak masyarakat adat. Pasal 18B ayat (2) UUD 1945
            berbunyi: “Negara mengakui dan menghormati kesatuankesatuan
            masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisionalnya sepanjang
            masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan
            prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam
            undang-undang.” Sementara itu Pasal 28I ayat (3) UUD 1945 berbunyi:
            “Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras
            dengan perkembangan zaman dan peradaban.”
                 UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi
            menempatkan masyarakat adat sebagai pihak khusus yang dapat
            menjadi pemohon dalam pengujian undang-undang. Dalam Pasal 51
            ayat (1) UU No. 24/2003 tentang Mahkamah Konstitusi disebutkan
            bahwa: “Pemohon adalah pihak yang menganggap hak dan/atau
            kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya undang-
            undang, yaitu: a. Perorangan warga negara Indonesia; b. Kesatuan
            masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan
            perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik
            Indonesia yang diatur dalam undangundang; c. Badan hukum publik
            atau privat; atau d. Lembaga negara.”

                 Masyarakat adat yang memiliki kedudukan hukum (legal
            standing) sebagai pihak yang dapat berperkara di Mahkamah
            Konstitusi dilekati dengan persyaratan sesuai dengan Pasal 18B ayat
            (2) UUD 1945. Berdasarkan Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 terdapat
            empat unsur yang menjadi persyaratan bagi keberadaan kesatuan
            masyarakat hukum adat, yaitu: (a) sepanjang masih hidup; (b)
            sesuai dengan perkembangan masyarakat; (c) prinsip NKRI; dan
            (d)  diatur dalam undang-undang. Mahkamah Konstitusi pertama
            kali memberikan penjelasan terhadap empat syarat keberadaan
            kesatuan masyarakat hukum adat itu dalam putusan perkara No.
            10/PUU-I/2003 perihal pengujian UU No. 11 Tahun 2003 tentang
            Perubahan atas UU No. 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan
            Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan
            Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna,
            Kabupaten Singingi, dan Kota Batam. Dalam permohonan


               354     Konstitusionalisme Agraria
   380   381   382   383   384   385   386   387   388   389   390