Page 382 - Konstitusionalisme Agraria
P. 382

terkena dampak dari penetapan wilayah pertambangan. Hal serupa
            juga diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi dalam putusan perkara
            No. 34/PUU-IX/2011 mengenai pengujian UU No. 41 Tahun 1999
            tentang Kehutanan. Dalam putusan ini, Mahkamah Konstitusi
            menyampaikan bahwa kata “memperhatikan” yang terdapat di dalam
            Pasal 4 ayat (3) UU Kehutanan  haruslah dimaknai secara imperatif
                                        61
            berupa penegasan bahwa Pemerintah, saat menetapkan wilayah
            kawasan hutan, berkewajiban menyertakan pendapat masyarakat
            terlebih dahulu sebagai bentuk fungsi kontrol terhadap Pemerintah
            untuk memastikan dipenuhinya hak-hak konstitusional warga
            negara untuk hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan
            mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, mempunyai
            hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih
            secara sewenang-wenang oleh siapa pun. Namun, persetujuan dari
            masyarakat itu tidak mesti dilakukan secara tertulis. Mahkamah
            Konstitusi lebih menekankan kepada terlaksananya kewajiban
            menyertakan pendapat masyarakat, tidak mesti berupa persetujuan
            tertulis dari setiap orang di dalam masyarakat. Pemerintah mesti
            menyediakan mekanisme keikutsertaan secara aktif dari masyarakat
            berupa keterlibatan langsung dalam pemberian pendapat dalam
            proses penetapan WP maupun dalam pengukuhan kawasan hutan
            sebagai bentuk konkret dari pelaksanaan ketentuan hak asasi
            manusia yang terdapat di dalam konstitusi.
                 Dalam putusan perkara No. 30/PUU-VIII/2010 mengenai
            Pengujian UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
            Batubara, Mahkamah Konstitusi menyebutkan bahwa pemerintah
            juga harus memperhatikan sistem yang melindungi usaha kecil. Oleh
            karena itu, perlu ada pengklasifikasian antara kelompok usaha kecil,
            usaha menengan dan usaha besar. Ketiga klasifikasi itu tidak boleh
            diperhadapkan dalam satu kompetisi. Menghindari kompetisi bebas
            dan langsung dengan usaha besar merupakan cara untuk melindungi
            usaha kecil dan menengah.

                 61 Pasal 4 ayat (3) UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan berbunyi: “Penguasaan
            hutan oleh  Negara  tetap  memperhatikan hak masyarakat hukum  adat,  sepanjang
            kenyataannya  masih ada dan diakui  keberadaannya,  serta  tidak  bertentangan dengan
            kepentingan nasional.”

                                      Konstitusi Agraria dan Mahkamah Konstitusi     351
   377   378   379   380   381   382   383   384   385   386   387