Page 384 - Konstitusionalisme Agraria
P. 384

“Pengaturan pembatasan luas tanah pertanian yang dapat dimiliki
                 oleh perorangan/keluarga warga negara Indonesia, telah memberikan
                 aturan yang jelas atau memberikan kepastian hukum (rechtszekerheid)
                 dalam rangka penataan ulang kepemilikan tanah (land reform)
                 khususnya tanah pertanian. Penataan ulang kepemilikan tanah
                 bersesuaian dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, UUPA, dan UU PLTP
                 yang mencerminkan tanah dan kepemilikannya memiliki fungsi
                 sosial.”

                 Lebih lanjut Mahkamah Konstitusi menyampaikan bahwa
            pembatasan hak milik diperlukan dalam rangka penataan ulang
            kepemilikan tanah (land reform) khususnya tanah pertanian yang
            bersesuaian dengan pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Hak milik bukan
            merupakan hak mutlak yang tidak dapat diganggu gugat karena
            itu tidak berkesesuaian dengan hukum adat dan fungsi sosial dari
            tiap-tiap hak.
                 Selain itu, dalam putusan perkara No. 021/PUU-III/2005
            mengenai pengujian UU Kehutanan, Mahkamah Konstitusi
            berpendapat bahwa berdasarkan UUD 1945 hak milik itu bukanlah
            merupakan HAM yang bersifat absolut, melainkan hak yang dalam
            pelaksanaannya wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan
            dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk antara
            lain kepentingan keamanan dan ketertiban umum. Oleh karena itu,
            hak milik dapat diambil oleh negara. Tidak setiap perampasan hak
            milik serta-merta bertentangan dengan UUD 1945. Perampasan hak
            milik dapat dibenarkan sepanjang dilakukan sesuai dengan prinsip
            due process of law, terlebih lagi terhadap hak milik yang lahir karena
            konstruksi hukum (legal construction). Namun demikian, terlepas dari
            keabsahan perampasan hak milik sepanjang dilakukan sesuai dengan
            prinsip due process of law di atas, hak milik dari pihak ketiga yang
            beritikad baik (ter goeder trouw, good faith) tetap harus dilindungi.



            Perlindungan terhadap Keberadaan dan Hak Masyarakat Adat

            Keberadaan dan hak-hak masyarakat adat mendapatkan tempat
            khusus di dalam UUD 1945 dan juga di dalam UU Mahkamah
            Konstitusi. Pasal 18B ayat (2) dan Pasal 28I ayat (3) UUD 1945 menjadi


                                      Konstitusi Agraria dan Mahkamah Konstitusi     353
   379   380   381   382   383   384   385   386   387   388   389