Page 383 - Konstitusionalisme Agraria
P. 383

Dalam menyelesaikan konflik sumber daya alam pun
            pemerintah semestinya memperhatikan keberadaan hak-hak
            perseorangan dan masyarakat hukum adat yang terdapat pada
            wilayah konflik. Dalam kaitannya dengan konflik perkebunan,
            melalui putusan perkara No. 55/PUU-VIII/2010 mengenai pengujian
            UU No. 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan, Mahkamah Konstitusi
            menekankan perlunya terlebih dahulu menerapkan hukum perdata
            untuk menyelesaikan konflik perkebunan dari pada langsung
            menerapkan hukum pidana yang terbukti selama ini, bahkan sejak
            zaman kolonial, telah menyengsarakan rakyat. Bahkan ketentuan
            tindak pidana perkebunan (khususnya Pasal 47 ayat (2) UU
            Perkebunan), menurut Mahkamah Konstitusi tidak tidak tepat
            dikenakan terhadap orang yang menduduki tanah berdasarkan
            hukum adat karena timbulnya hak-hak adat adalah atas dasar ipso
            facto. Artinya seseorang membuka, mengerjakan dan memanen
            hasilnya atas kenyataan bahwa ia telah mengerjakan tanah tersebut
            secara intensif dalam waktu yang lama, sehingga hubungan
            seseorang dengan tanah semakin intensif.
                 Meskipun hak rakyat harus diuyamakan dalam pemanfaatan
            tanah dan sumber daya alam lainnya, bukan berarti hak-hak rakyat
            itu bersifat mutlak. Hak rakyat, seperti hak milik sekalipun tidak
            bersifat mutlak, melainkan memiliki batasan. Salah satu batasan
            yang diterapkan terhadap warga negara adalah batasan pemilikan
            tanah pertanian sebagaimana telah dibatasi melalui UU No. 56 Prp
            Tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian. Mahkamah
            Konstitusi masih memandang undang-undang tersebut relevan
            sampai hari ini.
                 Dalam putusan perkara No. Nomor 11/PUU-V/2007, Mahkamah
            Konstitusi membatalkan permohonan yang diajukan oleh pemohon
            yang hendak menghapus batas luas kepemilikan tanah pertanian.
            Penguasaan tanah pertanian oleh warga negara dan badan hukum
            harus dibatasi agar tidak memperlemah penguasaan negara dan
            menjadi bentuk penindasan kepada rakyat karena konsentrasi
            sumber daya terletak pada segelintir orang tertentu. Dalam putusan
            itu Mahkamah Konstitusi menyebutkan:


               352     Konstitusionalisme Agraria
   378   379   380   381   382   383   384   385   386   387   388