Page 381 - Konstitusionalisme Agraria
P. 381

wilayah pertambangan, pemerintah harus mengutamakan
            penentuan Wilayah Pertambangan Rakyat sebelum menentukan
            Wilayah Pertambangan Nasional (WPN) maupun Wilayah Usaha
            Pertambangan (WPN). Hal ini dilakukan untuk memastikan
            dan mengutamakan rakyat dalam pemanfaatan sumber daya
            alam. Bila hal ini dikaitkan dalam pengelolaan sumber daya alam
            lainnya, misalkan dalam konteks pengelolaan hutan, maka yang
            terlebih dahulu ditetapkan oleh pemerintah semestinya adalah
            keberadaan hutan adat dan berbagai skema pengelolaan hutan
            berbasis masyarakat sebelum menentukan wilayah hutan yang akan
            dijadikan sebagai lahan konsesi untuk dikelola oleh perusahaan
            kehutanan. Bahkan dalam penentuan suatu wilayah sebagai
            kawasan hutan, pemerintah harus memperhatikan keberadaan
            hak-hak perseorangan dan masyarakat yang ada pada wilayah yang
            akan dijadikan sebagai kawasan hutan itu (Putusan MK Perkara
            No. 45/PUU-IX/2011).
                 Bukan saja mendahulukan penentuan wilayah pertambangan
            rakyat, dalam putusan perkara No. No. 32/PUU-VIII/2010 mengenai
            Pengujian UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
            dan Batubara, Mahkamah Konstitusi memberikan makna atas
            kata “memperhatikan” yang terdapat di dalam pasal 10 huruf b UU
            Minerba.  Menurut Mahkamah Konstitusi, kata “memperhatikan” di
                     60
            dalam Pasal 10 huruf b UU Minerba bersifat konstitusional bersyarat
            (conditionally cosntitutional) sepanjang frasa “memperhatikan”
            itu dimaknai, “Wajib melindungi, menghormati, dan memenuhi
            kepentingan masyarakat yang wilayah maupun tanah miliknya
            akan dimasukkan ke dalam wilayah pertambangan dan masyarakat
            yang akan terkena dampak”. Lebih lanjut, kata “memperhatikan”
            masyarakat itu menurut Mahkamah Konstitusi berarti membutuhkan
            persetujuan dari masyarakat yang potensial kehilangan hak dan



                 60 Pasal 10 UU No. 4  Tahun 20009  tentang Minerba berbunyi: Penetapan  WP
            sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) dilaksanakan: a. Secara transparan, partisipatif
            dan bertanggung jawab b. Secara terpadu dengan memperhatikan pendapat dari instansi
            pemerintah terkait, masyarakat dan dengan mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi
            dan sosial budaya, serta berwawasan lingkungan, dan c. Dengan memperhatikan aspirasi
            daerah

               350     Konstitusionalisme Agraria
   376   377   378   379   380   381   382   383   384   385   386