Page 58 - Penataan dan Pengelolaan Pertanahan yang Mensejahterakan Masyarakat (Hasil Penelitian Strategis PPPM STPN 2014)
P. 58

PPPM - STPN Yogyakarta              Penataan dan Pengelolaan Pertanahan yang Mensejahterakan Masyarakat

 akhirnya sering menjadi objek spekulasi. Salah satu faktor yang di-  para penanam modal khususnya investor asing dapat memberikan
 pertimbangkan oleh investor untuk melakukan kegiatan pe nanaman   dampak  yang  negatif  bagi  iklim  usaha  dan  ekonomi  Indonesia.
 modal adalah jaminan kepastian hukum atas tanah sebagai kapital   Ketergantungan  terhadap  penanaman  modal  ini  menunjukan
 aset. Kepastian akan perlindungan hak atas tanah bagi negara akan   kepada  bangsa  lain  ketidakmandirian  yang  pada  akhirnya  dapat
 mendatangkan investasi yang pada akhirnya akan membuka banyak   mengeksploitasi  sumber  daya  yang  ada  di  negara.  Sementara
 lapangan kerja, menambah devisa dan meningkat kan kesejahteraan   pendapat  yang  lain  menyatakan  bahwa  paham  neoloberalisme
 masyarakat.  Tanpa  perlindungan  terhadap  hak  atas  tanah,  maka   diharapkan  menjadi  daya  tarik  untuk  para  investor  untuk  me-
 pembangunan berkelanjutan tidak akan terlaksana karena mereka   nanam kan  modalnya  yang  kesemuanya  ini  diarahkan  untuk  ke-
 yang bersedia melakukan investasi jangka panjang, hanya sedikit.   makmuran  rakyat.  Hal  ini  dimungkinkan  karena  semakin  besar

 Ditambahkan pula oleh Machfudz (2011:49) bahwa legitimasi hak   modal  yang  ditanamkan  semakin  besar  income  negara  dan
 atas  tanah  merupakan  syarat  utama  tumbuhnya  iklim  investasi   memberikan lapangan kerja bagi sumber daya manusia atau dapat
 yang berbasis tanah. Investasi yang berbasis hak atas tanah dapat   mengurangi  tingkat  pengangguran  bersama  dan  meningkatkan
 mendorong  ekonomi  daerah  yang  ramah  lingkungan  dan  ramah   pen dapatan masyarakat.
 sosial.           Selain menjadi penghambat, dalam konteks aset, tanah merupa-
 Pengaturan investasi melalui penanaman modal, pada dasarnya   kan  salah  satu  aset  investasi  yang  bernilai  tinggi.  Dalam  per-
 meliputi hak atas tanah yang merupakan salah satu masalah pokok   kembangan nya sekarang ini, tanah telah menjadi daya tarik baru

 dalam investasi. Tanah merupakan modal dasar bagi para investor   yang diburu investor. Gelombang investasi global telah menjadikan
 yang  akan  mengembangkan  usahanya,  oleh  karena  itu  persoalan   tanah sebagai target perburuan untuk memaksimalkan keuntungan.
 tanah bagi penanaman modal asing maupun domestik merupakan   Akuisisi tanah bisa dipastikan selalu hadir dalam wacana ‘pendaya-
 ganjalan  terutama  karena  kurang  terjaminnya  kepastian  per-  gunaan tanah untuk pembangunan’.  Mengacu pada konsep Anna
                                                   9
 panjangan  hak  atas  tanah.  Para  pengusaha  terutama  yang  ingin   Tsing seperti dikutip Li (2012) inilah yang kemudian disebut dengan
 melaksanakan bisnisnya dalam jangka panjang selalu meragukan   tradisi  investasi  ‘pinggiran’,    sebuah  mitos  kultural  tentang  ‘per-
 tentang  status  dan  proses  pengurusan  hak  atas  tanah  terutama   untungan’  dan  ide  tentang  wilayah  yang  kosong  bisa  membawa
 mengenai pendaftarannya. Seperti diketahui bahwa bagi penanaman   keuntungan yang berlimpah.
 modal asing tidak dibenarkan untuk memperoleh hak atas tanah   Meskipun  diarahkan  sebagai  bagian  dari  upaya  percepatan

 selain dari Hak Guna Usaha (HGU), Hak Guna Bangunan (HGB)   pertumbuhan ekonomi, di sisi lain persoalan investasi juga jamak
 dan  Hak  Pakai  serta  Hak  Sewa.  Namun  pemerintah  menyadari   dilekatkan dengan dampak yang tidak diharapkan khususnya bagi
 bahwa untuk menunjang perekonomian suatu badan hukum atau   masyarakat  lokal  di  kawasan  pelaksanaan  proyek.  Salah  satu
 seseorang, dapat diberikan hak atas tanah sebagaimana tersebut di   penelitian yang dilakukan oleh Ravanera dan Gorra (2011). Dalam
 atas asalkan harus berada dan berkedudukan serta berdiri berdasar-
 kan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia. Kelahiran UU No   9   Hal  inilah  yang  bisa  ditelusuri  dari  narasi  awal  yang  dijadikan  pintu  masuk  bagi
 25 Tahun 2007 memberikan gambaran mengenai pro dan kontra   terjadinya  akuisisi  tanah  yaitu  dengan  membuat  identifikasi  mengenai  tanah-tanah
                   yang disebut ‘kosong’, ‘tidur’, ‘tidak produktif’, marginal’, terdegradasi, terlantar, tanah
 dari pendapat ini. Di satu sisi, kebebasan yang diberikan terhadap   tak bertuan, ’idle’, ’waste’, ’unproductive, public’, ‘surplus’, ‘vacant’,‘unused’ .

 56                                                                           57
   53   54   55   56   57   58   59   60   61   62   63