Page 59 - Penataan dan Pengelolaan Pertanahan yang Mensejahterakan Masyarakat (Hasil Penelitian Strategis PPPM STPN 2014)
P. 59

PPPM - STPN Yogyakarta                                                                                             Penataan dan Pengelolaan Pertanahan yang Mensejahterakan Masyarakat

            penelitiannya Ravanera dan Gorra menyebutkan tentang dampak                                   dengan uang ganti rugi tersebut, dan akhirnya terbuang percuma
            investasi  pada  livelihood  petani,  dalam  kasus  sawit  di  indonesia,                     tidak  untuk  diinvestasikan.  Meskipun  dengan  pengetahuan  yang
            kondisi petani kecil seringkali sangat miskin. Pekerjaan yang dijanji-                        cukup,  uang  ganti  rugi  yang  sangat  sedikit  tidak  cukup  untuk
            kan sebagai pengganti tanah-tanah yang diambil, hanya berlangsung                             memulai bisnis yang baru. Juga tercatat bahwa banyak petugas dan
            selama beberapa tahun saja. Banyak petani kecil yang beralih men-                             manajer bank yang berusaha mengeksploitasi petani miskin dengan
            jadi buruh dan berakhir dengan tidak punya tanah. Kasus di Filipina                           menipu jumlah ganti rugi. Penduduk pedesaan terusir dan dirugikan
            menunjukan bagaimana petani akhirnya merelakan tanahnya untuk                                 oleh investasi yang terjadi. Mereka tidak bisa mendapatkan pekerja-
            dijual  sebagai  pengganti  jarak  yang  tidak  mampu  berproduksi                            an di proyek investasi tersebut. Hanya mereka yang berpendidikan
            secara optimal. Kasus di Pakistan menggambarkan lepasnya tanah-                               dan  berasal  dari  kelompok  elitlah  yang  mengambil  manfaat  dari

            tanah petani yang dipicu oleh ketidakmampuan petani untuk ber-                                kehadiran proyek baru ini.
            saing dengan pengusaha pertanian yang lebih modern. Kondisi ini                                   Benjaminsen (2011) dalam penelitiannya di Tanzania menyebut-
            memaksa petani untuk menjual tanah-tanahnya dengan harga yang                                 kan  salah  satu  kasus  investasi  berkaitan  dengan  konservasi  laut
            rendah. Sebagian dari mereka ini memilih untuk menjadi migran                                 (Marine Conservation). Community based conservation terutama
            dan mencari pekerjaan lain. Lebih dari 10.000 petani yang pergi ke                            berkaitan  dengan  wilayah  pesisir,  membuat  penduduk  lokal  ke-
            luar  negeri  untuk  mencari  kesempatan  yang  lebih  baik.  Hal  ini                        hilangan  akses  atas  tanah  dan  sumberdaya  alam.  Baik  dalam
            terlihat dari fakta semakin meningkatnya remitan. Sementara itu                               konservasi alam maupun laut, terlihat tren paralel dari resentralisasi

            dalam kasus Nepal, kompetisi yang tinggi menyebabkan petani kecil                             kontrol  atas  sumberdaya  yang  dikombinasikan  dengan  ketidak-
            menjual tanah-tanah pertaniannya yang subur untuk mencari pen-                                berdayaan komunitas lokal. Sementara itu Guillozet dan Bliss (2011)
            dapatan dari sektor lain. Banyak petani kecil yang pendapatannya                              menjelaskan temuan penelitiannya dalam kasus di Ethiopia dimana
            meningkat sehingga bisa berinvestasi untuk kesehatan, pendidikan                              investasi asing di hutan dataran tinggi, pada kenyataannya sangat
            dan  makanan  yang  lebih  baik.  Namun  disayangkan,  perubahan-                             mempengaruhi mata pencaharian masyarakat pedesaan. Sebagai-
            per ubahan yang terjadi ini harus dibayar mahal. Tekanan komersial                            mana ditemukan dalam penelitiannya, Guillozet dan Bliss menemu-
            atas tanah menyebabkan fragmentasi. Pemilik tanah menjadi juta-                               kan adanya devolusi pengelolaan manajemen hutan dari negara ke
            wan  dadakan  dan  mengambil  banyak  keuntungan  dari  tingginya                             pedesaan beresiko pada masalah-masalah kompetisi antar elit desa.
            harga  penjualan  tanah.  Perubahan  ini  menyebabkan  disrupsi                               Masalah  tenurial  terjadi  di  level  internal  komunitas  itu  sendiri.

            harmoni sosial dan sinergitas di desa. Pemilik tanah merasa bisa                              Perebutan dan sengketa pengelolaan hutan adalah hal yang kerap
            mencukupi kebutuhan sendiri karena memiliki akses pada sumber                                 terjadi.  Sementara  itu,  sumberdaya  hutan  terus  berkurang.  Oleh
            keuangan.  Akibatnya  muncullah  perasaan  antisosial  diantara                               karena  itu,  Gordon  dan  Bliss  memandang  bahwa  investasi  per-
            mereka.                                                                                       tanahan  dan  sejumlah  klaim  terhadap  sumber  daya  hutan  harus
                Hal serupa juga terjadi dalam kasus rehabilitasi dan kompensasi                           menjadi  perhatian  serius  bagi  semua  pihak,  khususnya  dalam
            yang  diberikan  pada  kenyataannya  tidak  mampu  meningkatkan                               rangka menghadapi investasi global berskala besar.
            kehidupan  petani.  Karena  sebagian  besar  diantara  mereka  tidak

            ber pendidikan,  sehingga  tidak  tahu  apa  yang  harus  dilakukan

            58                                                                                                                                                           59
   54   55   56   57   58   59   60   61   62   63   64