Page 325 - Buku Ajar Praktikum Biokimia 2 Edisi 2
P. 325
1) Nata de Coco
Secara tradisional, air kelapa telah banyak digunakan sebagai olahan dalam
membuat kecap, dan bahan pangan lainnya. Ternyata air kelapa dapat diolah menjadi
pembuatan nata de coco. Proses membuat nata de coco ini bukan sekedar menggunakan
olahan dari air kelapa saja, melainkan juga membutuhkan bantuan dari bakteri
acetobacter xylinum dalam proses pembentukannya. Pada dasarnya, proses pembuatan
nata de coco juga dikaitkan sebagai selulosa bakterial, yaitu selulosa yang dijadikan
sebagai sumber tersedianya bakterial tersebut. Selain itu, nata de coco bisa diproduksi,
dibuat, dipelihara, dan harga produksinya juga tergolong rendah (Afrizal, 2011).
Selain bahan dasar seperti air kelapa, ampas tahu, dan nanas, produksi nata juga
membutuhkan bakteri yang digunakan sebagai starter, karbon, dan juga nitrogen.
Starter disini merupakan kultur murni dari bakteri Acetobacter xylinum belum
terkontaminasi mikroorganisme lain. A. Xylinum disini membutuhkan gula untuk dapat
tumbuh dengan baik. Meskipun ampas tahu, air kelapa, dan nanas mengandung
karbohidrat yang diperlukan, namun masih kurang memenuhi. Karena pernyataan
tersebut, sehingga harus ditambahkannya gula pasir dalam jumlah yang tepat sehingga
dapat dijadikan sebagai nutrisi (sumber karbon). Selain itu, kebutuhan nitrogen
sebagai unsur hara dipenuhi oleh urea. Urea yang mengandung nitrogen tersebut
berperan sebagai nutrisi untuk pertumbuhan bakteri. Selain ZA, sumber nitrogen
lain seperti kedelai dan air matang, air kelapa, air beras atau air beras juga dapat
digunakan, namun zat tersebut lebih mahal dari segi ekonomi (Setyowati & Mulyani,
2018).
2) Nata de Pina
Nanas merupakan tanaman dengan nama latin Ananas comosus, termasuk
dalam famili Botani, filum Spermophyta, kelas Monokotil, ordo Farinosae, famili
Bromeliaceae, dan spesies Comosus. Buah nanas terdiri beberapa bagian yaitu
kulit, daging, dan inti. Di berbagai industri, kulit nanas seringkali dianggap sebagai
bagian yang paling berlimpah dan seringkali dibuang sebagai limbah tanpa
pengolahan lebih lanjut (Rukmana, 1996).
320