Page 281 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 281
MERAWAT NKRI ALA KYAI MUDA | Tokoh-tokoh Inspiratif dari Pesantren
tugas berat sekalipun. Pada tahun 90an akhir, Pak heri merasa
prihatin atas berbagai problem pendidikan di Indonesia yang
hingga saaat itu belum juga terjawab. Menurutnya, biaya pendi-
dikan yang cenderung mahal dan bergerak melampaui kemam-
puan para miskin.
Di satu sisi, alumni pesantren yang sering kali gagap dalam
menghadapi dunia kerja, di sisi yang lain, juga merasa prihatin
atas kenyataan bahwa dunia pendidikan hanya bisa diakses oleh
anak-anak dengan kategori normal (baik-baik). Sedangkan, mer-
eka yang bermasalah secara sosial atau kejiwaan selalu terdepak
dari lembaga pendidikan betapapun mereka sangat membutuh-
kan pendidikan itu untuk masa depan mereka yang lebih baik.
Sementara itu, di lingkungan Pak Heri, ia melihat banyak anak
berhenti mengaji setelah selesai TPA. Pak Heri, meskipun mera-
sa tak memiliki “darah biru” seorang kiai,lalu mulai merintis
berdirinya Pondok Pesantren Lintang Songo dengan visi “Ter-
wujudnya santri berkualitas, mandiri dan bermanfaat bagi mas-
yarakat.”
Seperti tercermin dari nama yang diberikan untuk pesantren
ini, yakni “Lintang Songo” (lintang berarti bintang yang berca-
haya, yang menerangi, dan songo adalah angka tertinggi, dan
gabungan dari dua kata ini mengisyaratkan sebuah upaya un-
tuk mendorong orang berada dalam cahaya terang secara mak-
simal). Pak Heri ingin menegakkan tiang pendidikan yang lebih
mengedepankan cinta kasih.
Dan sejalan dengan keinginan itu, ia pun menerapkan prinsip
“pendidikan tanpa hukuman,” sebuah prinsip yang menyatakan
bahwa para santri atau anak didik itu tidak membutuhkan huku-
man tapi suri tauladan, dan selebihnya, doa.
| 267

