Page 377 - Merawat NKRI Ala Kyai Muda.cdr
P. 377
MERAWAT NKRI ALA KYAI MUDA | Tokoh-tokoh Inspiratif dari Pesantren
dua adiknya yang lain meninggal saat mereka masih balita. Ti-
dak seperti anak perempuan pada umumnya, Ruqayya kecil leb-
ih suka bergaul dengan teman laki-laki. Ia juga gemar bermain
permainan yang biasa dimainkan oleh anak laki-laki di desanya,
seperti main kelereng. Demi kegemarannya, ia rela menempuh
berkilo-kilo meter bersama teman-teman sebayanya hanya un-
tuk bermain kelereng, bahkan terkadang sampai menjelang wak-
tu maghrib tiba. Karena selalu menang bermain, teman-temann-
ya memanggil Ruqayya kecil Sang Jagoan.
Dalam tradisi masayarakat pesantren di Jawa pada umumnya,
Kyai dan keluarganya sangat dihormati dan diistimewakan.
Bahkan, kebanyakan masyarakat memandang keluarga kyai
adalah keluarga terdidik, berbeda dengan mereka melihat dir-
inya sendiri sebagai kalangan awam. Namun pandangan yang
seperti ini tidak disukai oleh Ruqayya karena bisa menghambat
atau membatasi komunikasi satu sama lain. Sejak kecil ia suka
dengan persaingan sehat dalam permainan, yang menang harus
dimenangkan dan yang kalah harus menerima. Bagi Ruqayya,
tidak boleh ada pembeda antar lapisan masyarakat.
Apalagi jika anak dari keluarga kyai merasa lebih istimewa, dan
berpura-pura agar mereka tampak selalu unggul dalam berbagai
hal, itu lebih tidak disukainya. “Saya sangat tidak suka jika ada
perlakuan khusus terhadap anak kiai, bahwa mereka harus sela-
lu ada di depan dan harus selalu menang. Saya tidak su`ka. Itu
tidak fair. Hal itu justru dapat menyebabkan timbulnya egoisme
pada anak kiai,” ungkap Ruqayyah.
Ruqayyah kecil termasuk anak yang berbeda dengan kebanya-
kan anak kecil yang lan. Ia sering bergaul dengan para santri
laki-laki, khususnya santri yang membantu di rumahnya (khad-
am). Setiap pagi, si khaddam bertugas mengantar Ruqayyah ke
| 363

