Page 91 - fikih kls 9
P. 91
1. Pengertian Waris dan Dasar Hukumnya
Kata waris dalam bahasa Arab disebut faraiḍ yang artinya bagian yang telah dipastikan kadarnya.
Kata faridhoh menurut bahasa mempunyai banyak arti antara lain : takdir (suatu ketentuan), qaṭ’u
(ketetapan yang pasti), inzal (menurunkan), tabyin (penjelasan) dan iḥlal (menghalalkan).
Allah Swt berfiman dalam Q.S an- Nisa ayat 11:
ُ
َّ ُ َ َ ز ْ َ َ ْ َ َ ُ َ ز َ َ أ ْ ِّ َ ُ ْ َ َّ ْ ُ َ ْ َ ز ُ َّ ُ ُ ُ
ْ
ْ ً َ َّ
نــهلف �ــتنثا قوــف ءاــسِن نــك نإــف ۚ �ــيثنلا ظــح لــث ِ م رــكذلِل ۖ كِ دلوأ � هــلا مــي ِ صوي
ي
ي
ي ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
َ
َ َ ُ ُّ ْ َ ِّ ُ ْ َ َ َ ُ ْ ِّ َ َ َ ً َ َ ْ َ َ َ َ َ َ ُ ُ
أ
َ ُ ز ِّ
َ ت َّ ِ ُ
ـ
ـ
ـحاو تـنك نإو ۖ ك� اـم اـثلث
ـ
ـ
ك� اــم سدــسلا اــم�م ٍ دــ ِ حاو لــِل ِهـيوب ِ لو ۚ فـصنلا اـهلف ةدـ ِ ـ ِ َ ت َ ـ
ُ أ َ ٌ ْ َ َ َ َ ُ ُ ُّ ُ أ َ َ َ ٌ َ َّ ُ َّ َ ٌ َ َ َ َ
ُ
ُ
َ ُ
َ ُ
ُ َ َ
ِّ
َ َ
ِّ
َ
َ
ْ
ِهــم ِ اف ةوــخإ له نك نإــف ۚ ثــلثلا ِهــم ِ اف هاوــبأ هــثروو دــلو له نــكي ل نإــف ۚ دــلو له نك نإ ِ
ِ
ِ
ِ
ِ
َ
َ
َ
َ
َ
ْ
ُ
ُ
َ
ُ
ُّ
ْ ُ ُّ
ُ
َ
ْ
َ
ْ
ـ
ـ
ـ
ـ
ـ
مـل برـقأ مـ ي َ ُ ْ َ َ ُ ُ َ ْ َ ْ ُ ُ َ ز ْ ْ ـ� ِ ـ ُ َّ َ ـ ْ َ ـم ۚ سدـسلا
ـ�أ نوردـت ل كؤاــنبأو كؤ ب �آ ۗ �د وأ اـ ب �وـي ٍةـي ِ صو ِ دـعب نـ ِ
ي
ٍ
ِ ي
َ
َ َ َّ
ً
َّ
ْ َ
َّ
َ
َ
َ
َ
ً
َ ِّ
ً
ً
]٤:١١[ اــمي�ِكح اــمي�ِلع نك هــلا نإ ۗ ِهــلا نــم ةــضيرف ۚ اــعفن
ِ
ِ
“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian
seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu
semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan;
jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang
ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal
itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-
bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa
saudar.a. maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah
dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan
anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak)
manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Bijaksana.”
Nabi Mumahammad bersabda yang artinya : “Bagilah harta pusaka antara ahli-ahli waris
menurut kitabullah (al-Quran).” (H.R Muslim dan Abu Dawud)
Dari dalil al-Quran dan hadis di atas dapat disimpulkan bahwa pembagian harta waris itu harus
mengacu pada aturan agama.
Rosullullah Saw. memerintahkan belajar dan mengajarkan ilmu waris (faraiḍ) agar tidak terjadi
perselisihan dalam membagikan harta warisan, disebabkan tidak adanya ahli ulama faraiḍ
sebagaimana sabdanya yang artinya: “Pelajarilah Al-Quran dan ajarkannya kepada orang-orang
dan pelajarilah ilmu faraiḍ serta ajarkanlah kepada orang-orang. Karena saya adalah orang
yang bakal direnggut (mati), sedang ilmu itu bakal diangkat. Hampir-hampir saja dua orang
yang bertengkar tentang pembagian pusaka, maka mereka berdua tidak menemukan seorangpun
yang snggup memfatwakannya kepada mereka.” (HR. Ahmad, an-Nasai dan ad-Daruquthny)
85
Fikih - Kelas IX
fikih siswa kls 9__revisi.indd 85 6/16/16 5:32 PM

