Page 213 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 213
Toponim Kota Yogyakarta 195
(2) hidup, aktif, meriah (lively, active, festive). Kata “wangun” di dalam Têmbung Kawi Mawi
Têgêsipun (1928) karya C.F. Winter diantaranya mengandung makna bangun dan damêl
sehingga “winangun” artinya adalah dibangun atau dibuat, sedangkan di dalam Javaansch-
Nederduitsch Woordenboek (Gericke en Roorda, 1847) “winangun” maknanya adalah
dipulihkan, diperbarui (hersteld, vernieuwd). Dengan demikian, suatu tempat dinamakan
“rejowinangun” dengan harapan agar tempat yang dibangun tersebut tentram, makmur,
sejahtera, dan banyak orangnya.
Asal muasal penamaan Kampung Rejowinangun tentunya tak lepas dari keberadaan
Pesanggrahan Rejawinangun yang dibuat oleh Sri Sultan Hamengku Buwana II ketika
masih menjadi putra mahkota dengan gelar KGPAA Hamengkunegara. Pesanggrahan
yang ada di +4 km sebelah timur keraton ini mulai dibangun pada 1785 Masehi atau 1711
Tahun Jawa. Di dalam Javanese-English Dictionary (1974) garapan Elinor Clark Horne,
pesanggrahan atau pasanggrahan mengandung 2 pengertian, yakni (1) villa atau kebun
di luar kota yang digunakan sebagai tempat tinggal bagi orang-orang berpangkat tinggi
atau sebagai tempat persinggahan bagi para pejabat tinggi yang sedang berpergian (an
out-of-town villa or estate used as a residence for high-ranking people or as a stopover point for
traveling high officials) dan (2) perkemahan di sebuah medan laga (camp at a battlefield).
Villa disini dapat diartikan sebagai tempat tinggal sementara sekaligus tempat untuk
liburan yang ada di pinggiran kota. Ditelisik dari sejarahnya, selain sebagai tempat
pesiar, Pesanggrahan Rejawinangun juga pernah dipakai sebagai markas prajurit
Langenkusuma pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana II. Prajurit
Langenkusuma merupakan prajurit perempuan di lingkungan Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat. Keberadaan mereka disebutkan dalam arsip Belanda yang mengisahkan
bahwa tatkala Jan Grevee, seorang pejabat Belanda, berkunjung ke Pesanggrahan
Rejawinangun pada 11 Agustus 1788 ia disambut oleh pasukan Langenkusuma yang
bermarkas di pesanggrahan tersebut.
GRM Sundoro memang dikenal gemar membangun berbagai tempat pesanggrahan
sehingga dijuluki sebagai ‘raja pembangunan pesanggrahan’. Oleh karena itu, tak
heran jika sejak bergelar pangeran adipati anom (1765-1792) hingga bertahta sebagai
Sri Sultan Hamengku Buwana II (1792-1810, 1811-1812, dan 1826-1828) setidaknya
ada 13 pesanggrahan yang didirikannya, diantaranya Pesanggrahan Rejawinangun,
Pelem Sewu, Purwareja, dan Reja Kusuma. Umumnya di pesanggrahan-pesanggrahan
terdapat taman, segaran, kolam, kebun, dan sarana ibadah. Pada masa lalu, Pesanggrahan
Rejawinangun dilengkapi dengan 2 buah kolam yang dihubungkan satu sama lain di

