Page 218 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 218
200 Toponim Kota Yogyakarta
Berdasarkan peta yang dibuat oleh Topografischen Dienst tahun 1923-1924 wilayah
Pilahan dibatasi oleh Peleman dan Depokan di sebelah barat, Ngangkruk di sebelah
utara, Ketandan dan Babadan di sebelah timur, dan Tinalan di sebelah selatan. Di
dalam Alphabetisch register van de administratieve (bestuurs-) en adatrechtelijke indeeling van
Nederlandsch-Indië Deel I: Java en Madoera (Schoel, 1931: 291), Pilahan pada masa kolonial
tercatat sebagai sebuah desa di Onderdistrik Kotagede, Distrik Kota Gede Djocja,
Regentschap Bantul, Afdeeling Djocjakarta, Gewest Djocjakarta. Pilahan mulai masuk
dalam wilayah perkotaan semenjak dikeluarkannya UU No. 17 Tahun 1947 tentang
pembentukan Haminte Kota Yogyakarta. Sekarang daerah ini secara administratif
masuk ke dalam Kelurahan Rejowinangun, Kecamatan Kotagede, Kabupaten/Kota
Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Di tengah lahan persawahan yang kian menyusut, Kampung Pilahan masih terus
mengembangkan potensi pertaniannya yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram
Islam. Untuk menyiasati lahan pertanian yang terbatas, warga menanam sayur, buah, dan
tanaman hias menggunakan polybag yang disusun bertingkat di tepi jalan. Kelompok tani
di kampung ini termasuk yang paling aktif di Kota Yogyakarta. Kelompok tani tersebut
diantaranya adalah kelompok tani Retno Makmur dan kelompok tani Sinta Mina. Pada
tahun 2014 silam, Kampung Pilahan (RW 12, Pilahan Lor) telah diresmikan sebagai
kampung wisata holtikultura oleh Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti. Wisatawan
dapat memetik sendiri sayur dan buah serta membawa pulang bibit tanaman. Tiap
sebulan sekali diadakan bazaar produk sayur dan buah organik.

