Page 215 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 215
Toponim Kota Yogyakarta 197
Sumber: Rudi Winarso
Tahun 2018 pasca
dipugar
Usai terbengkalai lama dan rusak—salah satunya akibat gempa bumi 2006—sisa
bangunan dengan struktur bata tanpa kayu ini dipugar kembali oleh Balai Pelestarian
Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (BPCB DIY) pada 2015-2016 dan menjadi
salah satu destinasi wisata di Yogyakarta yang ramai dikunjungi oleh para pelancong.
Oleh masyarakat, situs yang ada di perbatasan antara Kelurahan Rejowinangun
(Kecamatan Kotagede) dan Kelurahan Warungboto (Kecamatan Umbulharjo) ini lebih
dikenal dengan nama Situs Warungboto. Selain Situs Warungboto, daya tarik Kampung
Rejowinangun sebagai kampung wisata adalah aspek seni budaya, kerajinan, herbal,
kuliner, dan agronya yang masing-masing terbagi ke dalam lima klaster. Klaster pertama
(RW 1-5) adalah Kampung Budaya yang mencakup pertunjukkan wayang berbahasa
Inggris berdurasi 2 jam, karawitan, macapat, keroncong, sanggar tari, jathilan anak,
hadroh, gejog lesung, angklung, dan lain-lain. Klaster kedua (RW 06 & 07), yakni
Kampung Kerajinan yang meliputi home industry kerajinan kulit, fiber, ukir kayu, batik
tulis dan jumputan, wayang kulit, dan sebagainya. Klaster ketiga (RW 08 & 09), yaitu
Kampung Herbal sebagai sentra pembuatan jamu. Klaster keempat (RW 10) merupakan
Kampung Kuliner dimana banyak rumah tangga yang memproduksi makanan ringan
atau kudapan. Terakhir, klaster kelima (RW 11-13) merupakan Kampung Agro dimana
para pengunjung dapat memperoleh edukasi seputar tanaman Anggrek, sayur-mayur dan
buah-buahan, serta tanaman hias. Seakan berkorelasi dengan namanya, Rejowinangun,
berkat sektor pariwisatanya kampung ini berkembang menjadi kampung yang makmur
dan sejahtera serta ramai dikunjungi oleh para wisatawan.

