Page 240 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 240
222 Toponim Kota Yogyakarta
perlu dibentuk kampung khusus pembuat teh, adalah untuk mengantisipasi apabila
ada kunjungan dari kerajaan lain maka Keraton Yogyakarta sudah siap untuk melayani
para tamu-tamu tersebut. Para abdi dalem yang tinggal di Kampung Patehan kemudian
diberikan hak untuk memakai dan tinggal secara turun-temurun. Kampung para abdi
dalem tersebut jika dikorelasikan dengan situasi masa kini bisa disebut sebagai rumah
dinas bagi para abdi dalem.
Saat ini Kampung Patehan masih dihuni oleh para abdi dalem pembuat teh yang masih
setia meneruskan tradisi membuat teh untuk keraton. Meski demikian, pekerjaan
masyarakat di Kampung Patehan juga sudah mulai beragam. Banyak masyarakat yang
bekerja sebagai PNS maupun non-PNS, wirausaha, pensiunan manula, dsb. Selain itu,
Kampung Patehan sedang fokus dalam pengembangan seni budaya dan penghijauan.
“Seni budaya dan Penghijauan” merupakan salah satu visi dari Kampung Patehan. Seni
budaya yang dimaksud adalah pengembangan dan pelestarian musik karawitan dan
musik keroncong. Seni budaya tersebut diselenggarakan di Kampung Patehan sendiri
tanpa campur tangan Keraton. Bahkan Kampung Patehan memiliki sanggar kesenian
mereka sendiri yang bernama “Ngestiwilowo” yang digunakan untuk latihan karawitan.
Masyarakat Kampung Patehan juga sering ikut berkontribusi dalam kegiatan keraton
seperti keprajuritan dan karnaval kebudayaan. Selain itu, kampung ini juga memiliki
bendera kampung dengan gambar teh sebagai logonya. Sumber: https://www.google.co.id/maps
Lokasi Kampung
Patehan

