Page 278 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 278

260         Toponim Kota Yogyakarta












                             Yogyakarta. Berasal dari kata “mêrgangsa” yang dalam kamus Bausastra Jawa anggitan
                             Poerwadarminta (1939) berarti: kalang, tukang kayu, blandhong. Sebetulnya, terdapat
                             tugas khusus mergangsa ialah membikin gawang-gawang dan pintu untuk bangunan
                             rumah. Buku Ngayogyakarta (2013) menginformasikan, abdi dalem mergangsa diberi
                             nama depan Bradja.


                             Dalam lingkungan kerajaan, terutama untuk keperluan pendirian maupun perbaikan
                             bangunan, keberadaan abdi dalem  mergangsa tidak bisa diremehkan. Hal ini harus
                             dibedakan dengan undhagi. Kendati sama-sama sebagai tukang kayu, namun undhagi
                             hanya menggarap barang perlengkapan rumah tangga (mebel), bukan bangunan rumah
                             yang  menjadi  spesialisasi  mergangsa. Lantaran  posisinya  penting serta  dibutuhkan,
                             maklum jikalau raja menyediakan sebuah lahan atau daerah untuk ditinggali para pegawai
                             istana yang bertugas mengurusi perkayuan tersebut, sampai akhirnya masyarakat lokal
                             mengabadikan nama profesi  mereka untuk toponim kampung yang ditempatinya.
                             Hampir sama dengan riwayat Kampung Mergangsan Lor dan Mergangsan Kidul yang
                             hanya dibedakan letaknya di sisi utara dan selatan.

                             Profesi abdi dalem kalang atau mergangsa selalu mengikuti gerak sejarah Jawa. Dalam
                             memori kolektif orang Jawa, mergangsa atau wong kalang dikenal sebagai komunitas
                             pekerja gigih, berkarib dengan hutan dan sumber daya alam kayu, serta tersingkirkan
                             secara sosial. Terdapat saling-silang mengenai istilah Kalang. Ada yang bilang bahwa
                             Kalang bermula dari kata “alang-alang”, artinya hewan yang berkeliaran di alas (hutan).
                             Tradisi lisan juga menyebut Kalang dari kata “kepalang” yang mengandung arti tertutup
                             dari luar (alienasi). Kalang dijelaskan pula sebagai satu suku di tlatah Jawa, yang awalnya
                             hidup nomaden blusukan di hutan. Namun ketika Sultan Agung Hanyakrakusuma
                             (1640), leluhur raja Hamengkubuwana, duduk di kursi kekuasaan, orang mergangsa
                             diwajibkan bermukim pada sebuah area khusus yang disebut “kalangan”. Lalu oleh
                             pihak kerajaan, pundak mereka disampiri tugas sebagai tukang kayu yang meladeni
                             keraton, pembuat tali dari rotan, pengrajin, dan penebang kayu di hutan.


                             Jumlah mereka cukup besar dan tersebar di wilayah Pasuruan, Bangil, Surabaya, Pati,
                             Kendal, Pekalongan, Jepara, dan Semarang. Warto meneliti perihal  Blandong: Kerja
                             Wajib Eksploitasi Hutan (2001) menguraikan, tahun 1705 pernah diadakan perjanjian
                             antara  pemerintah Kumpeni dan petinggi Keraton Kasunanan. Intinya, raja masih
                             berhak menuntut tenaga orang Kalang. Misalnya, membuat dan memperbaiki perahu
   273   274   275   276   277   278   279   280   281   282   283