Page 279 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 279

Toponim Kota Yogyakarta   261











                  dan kapal-kapal, dan memasok kebutuhan kayu untuk lingkungan istana. Akan tetapi,
                  raja dilarang menarik pajak kepala dari orang Kalang, karena “manusia kayu” ini sudah
                  berada di bawah kekuasaan Kompeni.


                  Sewaktu teknologi belum canggih, orang  mergangsa  secara kolektif merobohkan
                  kayu cuma memakai kapak (wadung). Buahnya, mereka acap disebut kalang wadung
                  dan diplesetkan jadi walang kadung, yaitu belalang kurus kering yang berkeliaran di
                  hutan penuh rimbun. Dari sudut pandang historis-antropologis, kenyataan ini dianalisis
                  sebagai bentuk sindiran masyarakat kerajaan terhadap pekerjaan orang mergangsa yang
                  mahaberat,  berperadaban rendah, dan hidupnya liar.  Dengan stigma demikian ini,
                  alhasil mereka cenderung menghindari kontak sosial meski sudah tidak lagi bercokol
                  di hutan.

                  Lantaran teralienasi secara sosial, mereka pun mengembangkan tradisi budaya sendiri
                  di tengah kepungan budaya Jawa yang berpusat pada ibukota kerajaan dan pedesaan.
                  Contohnya, menggelar upacara keagamaan setiap hari kliwon ke lima disebut wuku
                  anggara. Menarik diri dari hutan demi menggelar doa pada hari suci bagi Batara Kamajaya,
                  yang dinamakan wuku galingan. Sesungguhya, nama mergangsa yang diabadikan menjadi
                  nama kampung ini memberi pesan berharga bagi masyarakat Yogyakarta bahwa hidup
                  tanpa dilambari etos kerja yang tinggi mustahil menuai sukses dan menjadi bintang.
                  Malas justru membuat mereka semakin direndahkan dalam sistem sosial dan ekonomi
                  yang lebih besar (dunia), alih-alih diabadikan sebagai nama kampung sebagai upaya
                  penghormatan.


                  Silam, ada kisah nyata yang menarik perhatian di Kampung Mergangsan, Yogyakarta.
                  Dalam koran Bromatani edisi 12 April 1877 diberitakan bahwa di Kampung Mergangsan
                  terdapat pucuk pohon waru yang aneh. Bentuknya berbeda dengan daun waru
                  umumnya. Pohon waru ini tumbuh pucuk dua warna, yang atas daunnya berwarna
                  hitam dan yang bawah merimbun daun berkelir putih seperti kain mori. Kejadian aneh
                  ini menyebabkan Kampung Mergangsan ramai lantaran orang-orang dari luar kampung
                  berbondong demi melihat pohon waru unik itu.

                  Fakta sejarah yang termuat dalam Bromartani tersebut bukan sekadar membuktikan
                  keterkenalan nama Kampung Mergangsan. Tetapi juga menunjukkan usia kampung
                  yang tua, sudah eksis di abad XIX. Artinya, kemunculan Kampung Mergangsan sebagai
                  ruang hunian bukanlah baru dalam lintasan sejarah Yogyakarta.
   274   275   276   277   278   279   280   281   282   283   284