Page 296 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 296
278 Toponim Kota Yogyakarta
2. Kampung Dipowinatan
Kampung Dipawinatan berada di sisi selatan makam Kintelan, tepatnya di barat
Kelurahan Keparakan. Dalam literatur klasik, terdapat dua versi terkait asal-usul
Kampung Dipawinatan. Pertama, merujuk pada akar kata “dipa” dan “winata”.
Menurut Padmasusastra dalam Bauwarna (1898), istilah dipawinata mempunyai
arti: ratuning damar (cahaya yang besar laiknya rembulan). Poerwadarminta melalui
pustaka Kawi-Jarwa (1943) menyurat lema dipa yang berarti diyan, obor; ratu; gajah.
Sementara terminologi winata dijelaskan Wintêr dalam Têmbung Kawi Mawi Têgêsipun
(1928) mengandung maksud sêkar tunjung, linangkung ing parentah. Dari pengertian
itu Dipawinata merupakan tokoh yang diharapkan mampu menyinari (membawa
kebaikan) bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya seperti halnya rembulan.
Kedua, Dipawinata merupakan tokoh aristokrat yang status sosialnya tinggi, dihormati,
dan dekat dengan penguasa istana, maka penduduk setempat memberi nama kawasan
ini menjadi Kampung Dipawinatan. Menurut tradisi lisan, KRT. Dipawinata ialah cucu
Hamengkubuwana II, yaitu putra BPH. Dipawijaya (putra ke-44 Hamengkubuwana II
dari garwa BRAy. Gandawati yang merupakan putri Tionghoa). Tatkala KRT. Dipawinata
tutup usia, ndalem Dipawinatan ditempati putra KRT. Dipawinata bernama Raden
Riyo Dipawinata. Lantas, rumah bangsawan ini diminta kembali oleh keraton untuk
ditinggali KRT. Jayadipura, suami BRAy. Jayadipura (putri ke-46 Hamengkubuwana
VII dari garwa BMAy. Retnojumanten). Sedangkan Raden Riyo Dipawinata bermukim
di bagian belakang ndalem Dipawinatan. Saat itu juga, ndalem Dipawinatan berganti
sebutan menjadi ndalem Jayadipuran.
Nama kampung acap mengikuti nama pemilik atau yang menduduki rumah induk.
Sedari KRT. Jayadipura berumah di ndalem Dipawinatan, maka berubah nama menjadi
Dalem Jayadipuran. Demikian pula perkampungan di sekelilingnya berubah nama
menjadi Kampung Jayadipuran. Dari keterangan buku Toponim Kota Yogyakarta (2007)
diketahui, KRT. Jayadipura adalah seniman serba bisa dan ahli bangunan keraton yang
turut berjuang periode perang kemerdekaan Indonesia guna mendukung perjuangan
Bung Karno. Selepas KRT. Jayadipura angkat kaki, ndalem Jayadipuran dipakai
“Van Slot”, yaitu putra kepatihan bernama Danuwinata. Mulai detik itu, Kampung
Jayadipuran bersalin nama lagi menjadi Kampung Dipawinatan untuk menghormati
cikal bakal kampung yang terlanjur mengakar di dalam memori masyarakat.

