Page 348 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 348

330         Toponim Kota Yogyakarta












                             2. Kampung Jagalan Beji


                             Kampung Jagalan Beji termasuk dalam wilayah administrasi Kelurahan Purwokinanti,
                             Kecamatan Pakualaman. Kampung ini terletak di bagian selatan dari Kampung Jagalan.
                             Kampung  ini masih berdekatan dengan aliran  Sungai Code di sebelah barat dari
                             kampung ini.


                             Dinamakan  Kampung  Jagalan  karena  di kampung  ini  tinggal  orang-orang  yang
                             bekerja sebagai tukang jagal atau penyembelih hewan. Jagal dalam kamus Bausastra
                             Jawa (Poerwadarminta, 1939) merupakan  tukang nyêmbêlèh raja-kaya atau tukang
                             menyembelih raja kaya (hewan-hewan ternak, seperti sapi, kambing, dan lain-lain).
                             Ketika menyembelih hewan. mereka biasanya dibantu oleh para “naya”. Golongan jagal
                             hanya berada di wilayah Pakualaman dengan nama abdi dalem Miji, yang diorganisasi
                             oleh lurah dan bekel (Gupta, 2007: 102). Sampai sekitar tahun 1918 jagal mempunyai
                             kedudukan penting, mereka berperan dalam  setiap upacara-upacara  penting yang
                             diadakan keraton sebagai tukang jagal sapi dan kerbau (Surjomihardjo, tt: 31 dalam
                             Gupta, 2007: 102). Bèji sendiri berarti tempat yang suci karena dulunya digunakan
                             untuk tempat bertapa  dimana terdapat kolam  air  untuk pemandian  dan  struktur
                             menyerupai  jagang. Dalam  kamus  Bausastra Jawa (Poerwadarminta, 1939),  bèji
                             bermakna blumbangan dianggo lêlangên, praon lsp. atau kolam dipakai untuk bersenang-
                             senang, berdayung, dan sebagainya.

                             Dalam beberapa karya sastra Jawa kuno kata bèji digunakan untuk menyebut tempat
                             suci yang digunakan untuk bertapa. Seperti contohnya kalimat “wontên satêpining bèji,
                             lênggah ing sela, pada kinumakên ing toya sarwi kinosokan...” (Kôndha Bumi, Padmasusastra,
                             1924, bait ke-35), “lakune Ki Wiradhustha | têpis wiring ngetan denya ngulati | nêngêna
                             ganti winuwus | Rahadèn Kamandaka | sawêdale saking urung-urung banyu | lampahira
                             ngalèr  ngetan |  mudhun  saking ngandhap bèji  ||” (Radèn Kamandaka, Balai  Pustaka,
                             1931, Pangkur bait ke-18), “cinidra ing duratmaka | mila sangsaya gêng wingit | wau
                             ta Sang Dananjaya | kulingling marang ing bèji | bèji jroning wanadri | ngungak-ungak
                             wèh agandrung | mulat kang tarate bang | kumambang têpining bèji | obah-obah kambah
                             ombaking kang toya ||” (Bratayuda, Albert Rusche & Co., 1901, Sinom bait ke-7). Dari
                             contoh-contoh tersebut terdapat pemaknaan dari kata beji yang merujuk pada tempat
                             bertapa tokoh-tokoh yang diceritakan.
   343   344   345   346   347   348   349   350   351   352   353