Page 349 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 349
Toponim Kota Yogyakarta 331
Dalam kalimat “wontên satêpining bèji, lênggah ing sela...” diterjemahkan dalam bahasa
Indonesia menjadi “berada di tepi bèji, duduk di batu...” dan kalimat “wau ta Sang
Dananjaya | kulingling marang ing bèji...” diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi
“sedari tadi sang Dananjaya, berkeliling pada di bèji...”. Dari hal tersebut terlihat bahwa
tokoh yang diceritakan dalam karya sastra tersebut sedang melakukan ritual seperti
duduk di batu dan mengitari sebuah tempat. Ritual yang dilakukan tokoh pada karya
sastra tersebut dilakukan di tempat khusus yang disebut dengan bèji.
Dalam karya sastra yang dipaparkan sebelumnya juga menunjukkan bèji ini berafiliasi
dengan air. Seperti kalimat “wontên satêpining bèji, lênggah ing sela, pada kinumakên ing
toya sarwi kinosokan...”, “...Rahadèn Kamandaka | sawêdale saking urung-urung banyu |
lampahira ngalèr ngetan | mudhun saking ngandhap bèji ||”, dan “...kumambang têpining
bèji | obah-obah kambah ombaking kang toya ||”. Tiap kalimat tersebut terdapat kata toya
dan banyu yang berarti air. Jadi, bisa dibilang bahwa bèji adalah sebutan untuk sumber
air (baik untuk pemandian atau bukan) yang digunakan sebagai tempat bertapa. Juga
terdapat gelar Ki dan Rahaden sehingga terdapat batasan bagi orang yang bertapa dalam
bèji. Dalam sejarah Pakualaman, Kampung Jagalan Beji disediakan oleh Sri Paku Alam
untuk digunakan oleh abdi dalem Miji sebagai tempat bagi mereka untuk bertapa atau
mendapat ketenangan batin.
Secara geografis sumber air yang paling dekat dengan Kampung Jagalan Beji adalah
sungai Code. Oleh karena itu, hal ini memungkinkan untuk dibuat sebuah kolam atau
pemandian dengan mengalirkan air dari sungai Code ke kampung tersebut. Wilayah
Kampung Jagalan Beji sampai saat ini masih menjadi milik keraton Pakualaman
sehingga masyarakat disana lebih banyak penduduk asli dan para jagal disana juga masih
merupakan abdi dalem Miji.
Kampung Jagalan Beji dari awal berdirinya Keraton Pakualaman sudah menjadi
tempat permukiman bagi para penyembelih hewan baik penyembelih hewan dari
masyarakat biasa maupun abdi dalem Miji. Sehingga tidak heran sampai saat ini banyak
jasa penyembelihan hewan ternak dari kampung ini. Tradisi penyembelihan paling
besar dilakukan pada saat perayaan seperti hari raya idul adha karena disana tidak
hanya kalangan bangsawan saja yang berkurban hewan untuk disembelih melainkan
masyarakat biasa juga ikut merayakan. Tradisi tersebut juga tidak jauh berbeda dengan
tradisi kampung Jagalan yang ada di Kasunanan Mangkunegaran.

