Page 460 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 460

442         Toponim Kota Yogyakarta












                             Menelisik asal-usul  dan  perkembangan  kampung, serpihan  kreativitas warga,
                             serta kehidupan dinamis penduduk di telatah Yogyakarta tempo dulu membuat
                             peneliti bangga, di satu pihak juga terbit kegelisahan. Bangga terhadap leluhur Jawa
                             meninggalkan local knowledge (pengetahuan lokal) dan local wisdom (kearifan lokal) yang
                             tersembunyi di lorong kampung. Sekaligus gelisah menyambangi hati lantaran kekayaan
                             pengetahuan lokal itu tenggelam dimangsa zaman. Ditambah dengan ketidakpedulian
                             warga  kota  kontemporer terhadap  tradisi  lokal  yang  tumbuh semarak  di kampung
                             sebagai kawasan terkecil dalam struktur tata ruang kota.


                             Dari analisa ini terbukti bahwa aura sejarah dan budaya di Yogyakarta bukan hanya
                             dimonopoli oleh kemegahan istana raja, alun-alun nan lapang, sepotong jalan Malioboro
                             yang eksotis, gedung agung yang berwibawa, keawetan Benteng Vredeburg dan stasiun
                             kereta api warisan kolonial Belanda, serta Pasar  Beringharjo yang  gayeng. Kearifan
                             sejarah rupanya memantul pula dalam perkampungan lawas yang terbaca dari aspek
                             toponim, ndalem (rumah bangsawan), ritual budaya yang masih direngkuh penghuninya,
                             dan tradisi lokal setempat. Dalam koridor keilmuan, toponim alias cerita penamaan
                             daerah menyumbang pengetahuan sejarah lokal dan dapat diposisikan sebagai sumber
                             sejarah.

                             Sementara dalam kepentingan promosi, toponim menjadi modal sekaligus kekuatan
                             masyarakat sekitar untuk “umuk” atau pamer ke tingkat nasional maupun internasional.
                             Tren baru pelancong meminati menu wisata  blusukan kampung untuk mencumbui
                             masa lalu Yogyakarta serta melihat “museum hidup”, yaitu aktivitas sehari-hari warga
                             di kampung  kuno. Semakin bersemangat melihat kenyataan  Perserikatan Bangsa-
                             Bangsa (PBB) dewasa ini memiliki perhatian khusus terhadap perkara toponim. Belum
                             lama (2019) Direktorat Sejarah diminta mengenalkan hasil kajian toponim kota-kota
                             di Indonesia pada forum agung PBB yang bermarkas di New York, Amerika. Artinya,
                             penggarapan toponim tidak bisa dipandang sebelah mata, sekalipun spasialnya berada
                             di tingkat mikro. Guna melengkapi informasi serta penunjuk bagi orang luar, maka
                             saban kampung yang terkupas dalam buku disertai titik kordinat bersama foto lokasi.
                             Mereka tak bakal khawatir kesasar (keblusuk) sewaktu mencari kampung yang bikin
                             penasaran seusai membaca buku ini. Cukup memasukkan titik koordinat di perangkat
                             google map, niscaya lokasi (ancer-ancer) kampung yang dimauinya akan muncul. Jadi,
                             titik kordinat dan foto lokasi bukan sebatas penghias buku dan menjembatani kejenuhan
                             pembaca tatkala menyimak tulisan sejarah.
   455   456   457   458   459   460   461   462   463   464   465