Page 456 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 456
438 Toponim Kota Yogyakarta
cucu Hamengkubuwana VI yang bernama KRT. Purbadirja. Meski penghuni ndalem
berganti, ndalem Sindurejan menjadi ndalem Purbadirjan, tapi nama kampungnya tidak
berubah.
Secara administratif, Kampung Sindurejan masuk Kecamatan Wirabrajan. Setelah
GBRAy. Purbadirja dan KRT. Purbadirja wafat, ndalem dibiarkan kosong. Hanya
saja, warga yang ngindhung masih tetap tinggal di situ, dan nama kampungnya masih
tetap Sindurejan. Saat ini, di rumah induk (di belakang ndalem) ditempati trah
Mangkukusuman (cucu GPH.Mangkukusuma). GPH. Mangkukusuma merupakan
hasil perkawinan Hamengkubuwana VII dengan permaisuri GKR Kencana.
Nama Sindureja pernah muncul dalam cariyos Babad Mataram yang termuat dalam koran
Bromartani edisi 17 September 1874: Sapraptane Sindurejan, Raden Arya Sindureja ningali,
wus tinutur mulanipun, sirat netra ngatirah, pan jaja bang lir wora wari kumedut, raden patih
pan sakala, tan emut kawula gusti. Dene ta datan pa dosa, jeng pangeran sikara ingkang abdi,
rinapu ing garwanipun, pan sarwi ginendholan, lilih Raden Sindureja dadya mupus, kalangkung
welasing putra, wau ta rahaden patih.
Terjemahan bebasnya: Sesampainya di Sindurejan, Raden Arya Sindureja melihat, sudah
diceritakan awal mulanya, sorot matanya memerah, terlihat begitu marah, seketika
raden patih, tidak ingat bawahan dan atasan. Karena tidak berdosa, jeng pangeran
menyiksa abdi dalem, dibujuk istrinya, sambil dipegangi, Raden Sindureja luluh hatinya
kemudian menerima, begitu kasihan kepada putranya, raden patih tersebut.
Penggal berita dikabarkan wartawan Bromartani ini menjembarkan pemahaman publik.
Pertama, dari segi usia, Kampung Sindurejan berumur hampir satu setengah abad.
Artinya, kemunculan ruang hunian Sindurejan bukanlah baru dan mampu merentang
dalam lingkungan Yogyakarta. Kedua, toponim Kampung Sindurejan memang dipicu
oleh kehadiran tokoh bangsawan bernama Sindureja. Ketiga, ketenaran keluarga
Sindureja sehingga menarik untuk bahan berita Bromartani.

