Page 459 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 459

Toponim Kota Yogyakarta   441








                  BAGIAN III

                  PENUTUP












                         ogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan.” Demikian humor penyair
                  “YYogyakarta, Joko Pinurbo yang viral  dan sering dikutip generasi milenial
                  tatkala mengingat nuansa Kota Yogyakarta berikut dinamika warganya. Memang, kota
                  yang kondang dengan makanan gudeg ini banyak meninggalkan serpihan kenangan bagi
                  khalayak ramai. Saking lekatnya akan kenangan itu, Yogyakarta beserta keunikannya
                  dijadikan  sumber inspirasi  oleh barisan  seniman  kala  menciptakan  karya. Contoh
                  gamblang dan populer adalah lagu “Yogyakarta” karangan Kla Project. Sepotong syair
                  tersebut mengabadi dalam sanubari wong Yogya, mampu menembus ruang dan waktu.


                  Buku ini mengetengahkan pendapat lain perihal Yogyakarta yang lebih filosofis dan
                  historis. Daerah yang digelari Kota Pendidikan ini tidak terbuat dari rindu dan dijejali
                  angkringan semata, melainkan tersusun atas kampung-kampung. Selepas melakukan
                  pengembaraan di lapangan dan menengok ke belakang beberapa jenak, kajian toponim
                  kampung di Yogyakarta menyadarkan kami tentang warna-warni perkampungan yang
                  istimewa serta unik. Realitas masa lalu keraton, kecerdasan warga setempat, dan pola
                  interaksi manusia Jawa-Yogya dengan “dunia luar” tergambar relatif lengkap lewat
                  ruang kampung.

                  Mengembangkan pemikiran Bakti Setiawan (2010), kampung di Yogyakarta sesungguhnya
                  dapat dilihat sebagai satu organisme yang hidup, tumbuh, dan berkembang. Kekhasan
                  kampung  justru terletak pada pola-pola  fisik yang beragam, organik, seringkali
                  surprizing, di luar kadar kreatifitas arsitek yang jenius sekalipun. Setiap kampung adalah
                  unik, karena tiap kampung merepresentasikan kekhasan sejarah, kemampuan, usaha,
                  perjuangan, dan bahkan jiwa merdeka warganya. Ratusan kampung di Yogyakarta,
                  dapatlah dipastikan akan ada ratusan ragam wajah kampung dan jiwa yang berbeda.
                  Kampung bukan sekadar urusan administratif  dan tempat bermukim. Namun, ia
                  memiliki riwayat historis dan makna yang terkandung di dalamnya, tentu variatif, dan
                  tidak bisa digeneralisasi.
   454   455   456   457   458   459   460   461   462   463   464