Page 461 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 461
Toponim Kota Yogyakarta 443
Perlu dipahami juga sumbangan toponim tidaklah kecil untuk kepentingan tata kota.
Dengan terlacaknya muasal nama kampung, karakter kampung, serta morfologi kota,
hasil studi ini dapat dimanfaatkan untuk panduan menyusun perencanaan pengernbangan
kota di masa depan. Tentu penataan dan pembangunan kota tua Yogyakarta sebagai
pewaris dinasti Mataram Islam ini tidak dikerjakan serampangan. Apalagi, arus globalisasi
dan modernisasi cepat merangsek menyebabkan perkembangan kota di Indonesia
tumbuh seragam. Karena itulah, toponim kampung menuntun kita memahami filosofi
Kota Yogyakarta yang diletakkan para pendahulu. Termasuk mengerti karakter fisik,
sosial, ekonomi, dan budaya yang mencerminkan suatu keunikan dan identitas daerah.
Seperti yang dikemukakan di muka, ratusan kampung di Yogya tidak seragam kisah dan
karakternya. Realitas ini terbaca dari tradisi penamaan kampung yang mengacu pada
beberapa faktor yang melatarbelakangi. Temuan berupa model dari penggalian riwayat
nama perkampungan di Yogyakarta dapat diringkas sebagai berikut: (1) nama orang
terkemuka atau terhormat yang menempati daerah itu; (2) nama jabatan dalam struktur
birokrasi pemerintahan kerajaan dinasti Mataram Islam; (3) peristiwa penting yang
terjadi di daerah itu; (4) keadaan suatu wilayah; (5) aktivitas pokok warga setempat;
(6) nama ciptaan baru. Model demikian ini dapat dikembangkan para peneliti untuk
menyigi toponim daerah lain.
Menilik dari kenyataan faktual, perkampungan tua yang bersetia mengiringi perjalanan
sejarah kota dari masa ke masa merupakan pusaka budaya Yogyakarta, bukan sekadar
ekosistem dan pelengkap kota. Dari sudut pandang antropologis, kampung mewadahi
jatidiri, kesadaran sejarah, dan penghargaan warga kota terhadap pentingnya
keberagaman budaya yang mewarnai Yogyakarta. Budaya Jawa (sekitar Keraton
Kasultanan dan Paku Alaman), Eropa (Kampung Baru dan Loji Kecil), Arab (Sayidan),
dan Tionghoa (Ketandan) mekar di Yogya berkat pendukungnya di masa lalu yang
bermukim di kantong kampung itu sehingga menyumbang komposisi masyarakat kota
yang plural. Melalui toponim, publik bisa memahami cara merawat harmoni sosial dan
hidup selaras menyongsong perubahan.
Puncak kata, kita bila mengabaikan toponim dan ekosistem kampung lambat laun
identitas dan bukti mata rantai kemajuan peradaban kota akan melenyap. Selain sebagai
jejak sejarah dan ekosistem, kampung merupakan aset yang sangat potensial bagi
perkembangan ilmu pengetahuan dan pariwisata. Sebab itulah, kampung-kampung di

