Page 19 - Untitled-1
P. 19

SOSOK


           Ditentang Orangtua karena Mondok,

           Kini Bangun Ponpes dan Ajarkan Wirausaha

           Ustadz H. Ahmad Syahrin Thoriq, Lc
               erawal dari perhatiannya akan lulusan pon-  minta kiriman uang ke orangtua. Saya buktikan
               pes yang sulit mendapat pekerjaan. Melalui  kepada mereka bahwa saya bisa mandiri,” te-
           BPonpes Subulana yang ia dirikan, keinginan-  gasnya.
           nya untuk mencetak santri-santri yang tak hanya
           pandai agama namun juga pandai berwirausaha   Selepas dari pondok pesantren, ia-pun
           mulai tercapai.                         melalangbuana ke berbagai negeri untuk melan-
                                                   jutkan pendidikannya. Mesir dan Yaman tak
                 Keinginan Thoriq untuk mendalami ilmu  terlewat dari pijakan kakinya untuk belajar lebih
           agama terlihat ketika ia menginjak usia tujuh ta-  lanjut.
           hun. Sejak saat itu , ia sering wara-wiri ke Ponpes
           terdekat dari kampungnya. Keinginannya ini tak   Usai dari negeri orang, ia pun pulang
           berjalan mulus seperti yang dikira. Ia mendapat  dan berencana membangun pesantren dengan
           tentangan dari orangtuanya.             membeli beberapa hektar lahan. Tak mudah me-
                                                   mang, banyak hambatan mendera hingga sem-
                 “Pemahaman masyarakat waktu itu, lu-  pat membuatnya tak sanggup membayar lahan
           lusan pesantren sulit cari kerja. Apalagi kebanya-  yang dibelinya. Hingga akhirnya ia menerima
           kan dari keluarga miskin. Sementara, waktu itu  tawaran lahan dari seseorang untuk di lahan itu
           lulusan pesantren kebanyakan tidak bermanfaat  dibangun pesantren. Pesantrennya-pun berhasil
           bagi lingkungannya. Ada ilmunya tapi tanpa  didirikan.
           pengamalannya,” kenangnya.
                                                        Di pesantren itu, pria lulusan Universitas
                 Orangtuanya sempat menentang. Ia  Al Azhar tersebut menerapkan nilai-nilai pentin-
           bersikukuh untuk belajar di Pesantren. Sam-  gnya kewirausahaan. Agar harapannya, ketika
           pai-sampai, ia pun pernah bolos agar dikeluar-  santrinya lulus dapat membuka usaha sendiri
           kan dari sekolah.                       dan menciptakan lapangan kerja. Di pesantren-
                                                   nya, ia menggratiskan biaya SPP untuk santri,
                 Hingga  akhirnya,  kedua  orangtuanya  karena ponpes tersebut memiliki bidang usaha
           meng-ultimatum, jika tetap bersikukuh di pe-  yang  sanggup untuk  menjalankan  kebutuhan
           santren,  orangtuanya-pun  lepas tangan.  “Akh-  operasional pesantren. (ipw)
           irnya, saya sempat berhenti sekolah. Sempat se-
           lama Sembilan bulan itu saya tidak sekolah. Saya
           malahan kerja menderes pohon kelapa untuk
           mencari gula,” aku pria kelahiran Poso, 8 Febru-
           ari 1984 tersebut.

                 Dengan kegigihannya, Thoriq berhasil
           meluluhkan  hati orangtuanya  dan mengizink-
           annya belajar di Pesantren. Memulai pendidikan
           pesantren pada tahun 1999 di Benua Etam dan
           mulai mondok tahun 2000 di Ponpes Darul Ih-
           san, Samarinda. Di sana, dia tak hanya belajar
           ilmu agama namun juga berwirausaha dengan
           membuka koperasi di ponpes. “Saya berusaha
           mandiri. Selama saya mondok, saya tidak pernah













                                                   Majalah Barakah / Edisi Oktober-November 2018   19
   14   15   16   17   18   19   20   21   22   23   24