Page 41 - Warta Bea Cukai Edisi November 2018
P. 41
SISI PEGAWAI
Bermula dari ketidaktahuannya menghitung volume ekspor Crude Palm Oil (CPO) di mana Irwan
Josafat Simanjuntak ditugaskan sebagai pegawai pemeriksa pada hanggar Kawasan Berikat (KB) di
PT. Sari Dumai Sejati membuat anak muda kelahiran Asahan Januasi 1992 ini semakin penasaran
dan berusaha sedapat mungkin untuk mengetahuinya.
Dengan adanya rolling pegawai pada Januari 2017 dan ditempatkan pada Seksi Pelayanan
Kepabean dan Cukai (PKC) sebagai pelaksana pemeriksa, Irwan secara mandiri mempelajari ilmu
dasar mengenai KB dan membandingkan dengan yang terjadi di lapangan, apa itu KB, perbedaan
penyelenggara dan pengusaha KB, fasilitas KB, dilanjutkan dengan kegiatan pemeriksaan pada KB.
Karena KPPBC TMP B Dumai termpatnya bekerja, dapat dikatakan sebagai kantor pengawasan dan
pelayanan yang khusus atau dominan mengenai kegiatan ekspor CPO dan produk turunannya.
Pengalaman yang Irwan rasakan bekerja di KB seakan terasa ada beberapa kendala pemeriksa
di lapangan antara lain pemeriksaan CPO dan produk turunan dilakukan pelaksana pemeriksa
(ditunjuk Subseksi Hangar), tetapi pengenalan dasar mengenai CPO dan produk turunannya masih
kurang. Begitu juga dengan teknik pemeriksaan sounding (pengukuran) darat, safety di lapangan
dan alat-alat untuk melakukan pemeriksaan belum begitu dipahami.
Belum lagi kendala bagaimana untuk mengatasi kalau ada perbedaan angka antara Surveyor dan
pelaksana pemeriksa Bea Cukai atau perbedaan angka pada tangki darat dengan tangki kapal.
Karena pemahaman pegawai pemeriksa untuk menghitung jumlah muatan CPO dan produk
turunannya sangat minim, sehingga jumlah muatan CPO yang dituangkan pada PEB selalu mengacu
atau menggunakan angka yang dikeluarkan Surveyor, padahal angka muatan ini adalah angka
antara pembeli dan penjual.
Bila melakukan penghitungan manual, pemeriksa membutuhkan lebih dari 10 (sepuluh) menit
untuk memeriksa satu tangki. Padahal, untuk satu jenis cairan CPO dan produk turunannya bisa
menggunakan 4 (empat) tangki. Bisa dibayangkan bagaimana kerja keras yang dilakukan pegawai
pemeriksa dalam hal ini, belum lagi tenaga untuk menaiki tangka tangki yang begitu tinggi. Untuk
mengatasai pekerjaan inilah Irwan berinisiatif membuat penghitungan dengan menggunakan MS.
Excel yang disimpan dalam gadgetnya.
Berdasarkan beberapa kendala di lapangan tersebut, Irwan berinisiatif memahami teknik
penghitungan muatan CPO dengan mengenal suhu tetap tangki, tinggi meja ukur, tinggi cairan,
suhu cairan, koefisien muai tangki, tabel muatan tangki dan tabel density cairan. Diawali dengan
sistem try and error, selama dua minggu, ternyata teknik penghitungan CPO dan produk turunan
menggunakan rumus yang sama hanya berbeda pada besaran density cairannya saja. “Semua data
atau variabel sounding yang dimasukkan ke kalkulator sounding harus sesuai dengan yang ada di
lapangan. Berbeda temperature (suhu) tangki saja, akan berpengaruh terhadap isi tangki,” ujar
Irwan yang pernah sekolah di SMAN 1 Matauli Pandan Sibolga itu.
Sebenarnya selama 6 (enam) bulan penempatan Irwan sebagai pelaksana pemeriksa pada KB,
tidak cukup untuk menyampaikan ide lanjutan dari MS. Excel yang dia gunakan untuk menghitung
jumlah muatan CPO dan produk turunannya. Karena pada Juli 2017, Irwan sudah dirolling lagi dan
ditempatkan pada Seksi Perbendaharaan sebagai pelaksana pemeriksa. Namun setelah berbincang
dengan kepala kantor pada saat olahraga, beliau setuju untuk melanjutkan perhitungan jumlah
muatan menggunakan MS. Excel menjadi aplikasi yang dapat diandalkan oleh pelaksana pemeriksa.
Volume 50, Nomor 9, September 2018 - Warta Bea Cukai | 39

