Page 402 - Tata Kelola Pemilu di Indonesia
P. 402

dan meliputi berbagai aspek. Dengan harapan tentu saja para penyelenggara
        pemilu tersebut  tidak  berhenti  dan  merasa  cukup  hanya  dengan  membaca
        buku ini. Sebaliknya mereka terdorong untuk mendalami masing-masing aspek
        bahasan dalam buku ini dengan membaca literatur-literatur yang telah banyak
        tersedia dan ditulis oleh para pengarang lain.

        Selain untuk para peserta Orientasi Tugas, buku ini juga dapat memperkaya
        bahan  bacaan  bagi  para  pengajar  maupun  mahasiswa  Paskasarjana  (S2)
        Program  Tata  Kelola  Pemilu  Indonesia,  yang  merupakan  hasil  kerja  sama
        antara  KPU  dengan berbagai  Perguruan  Tinggi Negeri di  seluruh  Indonesia.
        Dengan membaca buku ini, para mahasiswa tersebut diharapkan dapat dengan
        baik memahami fokus dan ruang lingkup kajian tata kelola pemilu.


        Dan tidak lupa, kami berharap agar buku ini menjadi bahan bacaan yang cukup
        memadai bagi para peminat isu-isu kepemiluan, baik akademisi, mahasiswa,
        pengamat, maupun penggiat kepemiluan. Apalagi bagi mereka yang memiliki
        keinginan  untuk  mendaftar  sebagai  penyelenggara  pemilu,  baik  di  KPU
        maupun Bawaslu. Dengan membaca buku ini, mereka setidak-tidaknya telah
        memiliki pemahaman yang cukup mengenai apa itu lembaga penyelenggara
        pemilu, apa saja bidang tugasnya, serta prinsip atau nilai-nilai apa yang harus
        dijadikan pegangan agar dapat menyelenggarakan pemilu secara luber, jurdil,
        dan berintegritas.


        Sebagaimana  telah  dinyatakan  di bagian  awal  bahwa  pemilu telah  menjadi
        salah satu ciri utama sistem politik Indonesia paska reformasi. Oleh karena itu,
        pemilu  tidak  boleh  hanya  sekedar  menjadi  rutinitas  demokrasi  prosedural.
        Namun penting agar nilai-nilai substantial dan prinsip-prinsip penyelenggaraan
        pemilu  demokratis  dapat  terwujud  dalam  setiap  perilaku  penyelenggara
        pemilu maupun dalam teknikalitas tahapan-tahapan penyelenggaraan pemilu.
        Dengan  demikian  pemilu  dapat  mendorong  terwujudnya  penyederhanaan
        sistem  kepartaian  maupun  sistem  pemerintahan  yang  efektif.  Memang  itu
        semua belum cukup untuk mewujudkan sistem demokrasi yang sehat. Karena
        diperlukan  beberapa  prasyarat  lain,  seperti  tata  kelola  pemerintahan  yang
        transparan  dan  akuntabel,  penghormatan  atas  hak  asasi  manusia,
        berkembangnya  pers  yang  bebas,  penegakan  hukum  yang  adil,  masyarakat
        sipil  yang  otonom,  dan  sebagainya.  Dan  itu  semua  akan  terus  menjadi
        tantangan ke depan yang harus diperjuangkan dengan tidak mudah.



    386     BAB 9 – PENUTUP
   397   398   399   400   401   402   403   404   405   406   407