Page 400 - Tata Kelola Pemilu di Indonesia
P. 400

menguraikan  alasan-alasan  (akademis  maupun  praktis)  mengapa  buku  ini
        perlu untuk dituliskan dalam bentuk buku.


        Berikutnya  Kris  Nugroho  dan  Ferry  Daud  M  Liando  menguraikan  secara
        konseptual maupun operasional nilai, prinsip, dan asas pemilu pada Bab 2.
        Topik ini ditulis dalam bab tersendiri untuk memberikan penekanan bahwa
        substansi dan nilai-nilai etik harus menjadi fondasi yang kokoh bagi seluruh
        proses tata kelola pemilu. Selanjutnya, pada Bab 4 Benget Manahan Silitonga
        dan Ferry Kurnia Rizkiyansyah menjelaskan sejarah singkat, struktur organisasi,
        maupun  tugas  dan  wewenang  kelembagaan  penyelenggara  pemilu  di
        Indonesia. Berbeda dengan lembaga sejenis di negara-negara lain, lembaga
        penyelenggara pemilu di Indonesia dibagi ke dalam tiga fungsi yang terpisah,
        yakni KPU sebagai pelaksana teknis, Pengawas Pemilu sebagai pengawas dan
        penegak  hukum  pemilu,  serta  DKPP  sebagai  penegak  etika  penyelenggara
        pemilu.


        Pada  Bab  3  Mada  Sukmajati  menjelaskan  secara  mendetail  namun  mudah
        dipahami  tentang  sistem  pemilu  beserta  unsur-unsurnya,  serta  bagaimana
        konsekuensinya bagi bangunan politik. Dalam bab ini juga diuraikan bagaimana
        perjalanan  sejarah  sistem  pemilu  di  Indonesia yang  terentang  sejak  Pemilu
        1955  hingga  Pemilu  era  reformasi.  Tidak  lupa,  pada  bab  ini  juga  diuraikan
        sistem  Pemilu  Presiden/Wakil  Presiden,  sistem  Pemilu  DPR/DPRD,  sistem
        Pemilu DPD, serta sistem Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.


        Pada  Bab  5  Aditya  Perdana  dan  Ferry  Kurnia  Rizkiyansyah  menerangkan
        tahapan-tahapan  penyelenggaraan  pemilu  yang  dibungkus  dalam  kerangka
        siklus pemilu (electoral cycle), yakni masa persiapan pemilu, masa pelaksanaan
        pemilu,  dan  masa  paska  pemilu.  Bab  ini  bukan  hanya  berisi  urutan-urutan
        tahapan pemilu, namun juga memuat identifikasi tantangan/hambatan yang
        mungkin  muncul  dalam  tahapan-tahapan  tersebut  serta  panduan  praktis
        bagaimana cara mengatasinya.


        Berikutnya,  Ferry  Kurnia  Rizkiyansyah  dan  Benget  Manahan  Silitonga
        menjelaskan  pada  Bab  6  mengenai  perencanaan  dan  penganggaran
        penyelenggaraan pemilu, metode evaluasi, serta infrastruktur penunjang bagi
        para  penyelenggaraan  Pemilu  di  Indonesia.  Selanjutnya,  pada  Bab  7  Kris
        Nugroho dan Titi Anggraini menjelaskan secara terperinci tentang jenis-jenis
        perkara  hukum  dalam  pemilu,  baik  berupa  pelanggaran  maupun  sengketa,

    384     BAB 9 – PENUTUP
   395   396   397   398   399   400   401   402   403   404   405