Page 399 - Tata Kelola Pemilu di Indonesia
P. 399

BAB 9

                                             PENUTUP


                                        Pramono Ubaid Tanthowi




              Pemilihan Umum (Pemilu) demokratis telah menjadi salah satu warna paling
              penting dari kehidupan politik di Indonesia selama dua dasawarsa terakhir.
              Sejak Pemilu 1999, wakil-wakil rakyat di Parlemen dipilih melalui sistem yang
              berbeda dibanding dengan pemilu era Orde Baru. Sejak Pemilu 2004, Pasangan
              Presiden  dan  Wakil  Presiden  tidak  lagi  dipilih  melalui  MPR,  namun  dipilih
              secara langsung oleh rakyat. Sejak tahun yang sama, wakil-wakil rakyat yang
              duduk di Dewan Perwakilan Daerah (DPD), sebagai pengganti lembaga Utusan
              Daerah, juga dipilih secara langsung. Dan terakhir, sejak 2005, Pasangan Calon
              Kepala  Daerah  dan  Wakil  Kepala  Daerah,  baik  Gubernur/Wakil  Gubernur,
              Bupati/Wakil Bupati, maupun Walikota/Wakil Walikota tidak lagi dipilih oleh
              DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota, melainkan juga dipilih secara
              langsung oleh rakyat.

              Perubahan  fundamental  seperti  ini  bukan  hanya  berlaku  dalam  hal  sistem
              pemilu, namun juga menyangkut aspek-aspek lain dari pemilu. Yang penting
              untuk  dicatat  adalah  reformasi  di  dalam  aspek  penyelenggara  pemilu  yang
              mengarah  kepada  kelembagaan  yang  semakin  mandiri.  Demikian  juga
              teknikalitas  penyelenggaraan  tahapan-tahapan  pemilu  yang  semakin
              mendorong  transparansi  dan  akuntabilitas.  Dan  tidak  ketinggalan  adalah
              mekanisme penegakan hukum pemilu yang semakin kokoh untuk memastikan
              bahwa penyelenggaraan pemilu berlangsung secara berintegritas, luber dan
              jurdil.


              Topik-topik itulah yang menjadi bahasan utama di sepanjang buku ini. Topik-
              topik  tersebut,  meski  ditulis  oleh  beberapa  penulis  yang  berbeda,  namun
              memiliki alur penalaran yang cukup runtut. Secara berurutan, bab-bab dalam
              buku ini membicarakan berbagai aspek kepemiluan sejak dari hulu hingga hilir.
              Pada  Bab  1,  Mada  Sukmajati  dan  Aditya  Perdana  menjelaskan  definisi  dan
              konsep  “tata  kelola  pemilu”  (electoral  governance)  sebagai  kerangka  dasar
              bagi para pembaca untuk memahami buku ini. Tidak lupa, kedua penulis juga


                                                                        BAB 9 – PENUTUP    383
   394   395   396   397   398   399   400   401   402   403   404