Page 126 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 APRIL 2021
P. 126

"Perlu digarisbawahi, persoalan THR di undang-undang itu sesuatu yang normatif. Tidak ada
              tawar-menawar. Kami tidak akan mengusahakan perundingan itu," ujar Ramidi dalam konferensi
              pers secara virtual, Senin, 5 April 2021.

              Ia  melanjutkan  pengusaha  harus  memberi  kepastian  terhadap  buruh  soal  pembayaran  THR
              menjelang Idul Fitri. Sesuai ketentuan perundang-undangan dan Peraturan Pemerintah Nomor
              78 Tahun 2015 tentang Pengupahan yang masih berlaku, tunjangan wajib diberikan dengan
              batas waktu tertentu sebelum hari raya.

              Di samping itu, Ramidi meminta pemerintah memberikan dukungan terhadap buruh dengan tidak
              menerbitkan surat edaran yang mengizinkan perusahaan memberikan THR dengan mekanisme
              dicicil. Tahun lalu, saat pembayaran THR dilakukan dengan cara dicicil, ada 10 ribu buruh yang
              belum menerima haknya karena perusahaan masih mengutang.

              Masalah  tersebut  semakin  membebani  buruh yang  ikut  terimbas  dampak  pandemi  Covid-19.
              Data SPN menunjukkan, pada 2020, sebanyak 24.451 pekerja diliburkan tanpa diberi upah dan
              mengalami pemutusan hubungan kerja tanpa pesangon.

              Pengusaha  sebelumnya  menyatakan  niat  ingin  melakukan  perundingan  bipartit  untuk
              menanggapi permintaan buruh yang mendesak perusahaan membayar THR secara penuh. Ketua
              Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo Haryadi Sukamdani mengatakan tak semua
              perusahaan memiliki kondisi keuangan yang cukup lantaran masih tertekan pandemi Covid-19.

              "Tidak ada jalan lain selain kita kompromi. Mereka (pengusaha) mengupayakan pembicaraan
              bipartit," ujar Haryadi. Menurut Haryadi, ada sejumlah sektor yang saat ini masih mengalami
              kesulitan pendapatan, seperti sektor angkutan darat, tekstil, dan perhotelan. Pengusaha hotel di
              Bali,  misalnya,  nyaris  menutup  usaha  akibat  rendahnya  tingkat  kunjungan  selama  setahun
              pandemi sehingga mereka tidak memiliki kemampuan untuk membayarkan THR.

              Dengan kondisi arus kas yang tidak lancar, Haryadi menilai perusahaan tak mungkin dipaksa
              untuk membayar tunjangan secara penuh bagi para pekerja. "Yang paling penting karyawan
              tidak di-PHK. Saya rasa dalam kondisi ini bisa ada kesepakatan pengusaha dan karyawan asal
              transparan," tutur Haryadi.

              Sementara  itu  Konfederasi  Serikat  Pekerja  Indonesia  atau  KSPI  menyatakan  akan  membuka
              ruang bipartit dengan pengusaha. Syaratnya, buruh meminta perusahaan menunjukkan bukti
              laporan  keuangan  selama  dua  tahun  bagi  sektor-sektor  yang  tidak  mampu  membayar  THR
              secara penuh, seperti industri pariwisata dan turunannya.

              "Bipartit  bisa  sepanjang  ada  bukti  kasat  mata  yang  terlihat,  yaitu  laporan  pembukuan
              perusahaan  yang  merugi  selama  dua  tahun,  dan  bernegosiasi  dengan  serikat  pekerja,"  ujar
              Presiden KSPI Said.

              Secara  bersamaan,  Said  meminta  bukti  laporan  keuangan  itu  diserahkan  ke  dinas
              ketenagakerjaan setempat. Setelah itu, pemerintah akan menilai kemampuan perusahaan dalam
              membayarkan kewajibannya kepada pekerja berdasarkan pembukuan keuangannya.














                                                           125
   121   122   123   124   125   126   127   128   129   130   131