Page 744 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2020
P. 744

Pihaknya  juga  menolak sistem  perjanjian  kerja waktu  tertentu  (PKWT) atau  kontrak  seumur
              hidup,  outsourcing  pekerja  seumur  hidup  tanpa  batas  jenis  pekerjaan,  waktu  kerja  yang
              eksploitatif,  serta  hilangnya  hak  cuti  dan  hak  upah  atas  cuti.  Cuti  haid  dan  melahirkan  bagi
              pekerja perempuan hilang karena hak upahnya atas cuti tersebut hilang. Cuti panjang dan hak
              cuti panjang juga hilang. Yang terakhir, kata Iqbal, karena karyawan kontrak dan outsourcing
              bisa seumur hidup, jaminan pensiun dan kesehatan mereka juga hilang. "Dari tujuh isu hasil
              kesepakatan tersebut, buruh menolak keras," tegasnya.

              Sementara itu, Wakil Ketua Baleg DPR Ibnu Multazam mengatakan, pihaknya sudah berupaya
              mengakomodasi  aspirasi  pihak  buruh  maupun  pengusaha.  Memang  tidak  semuanya  bisa
              dimasukkan dalam RUU Ciptaker. "Kami memang tidak bisa memuaskan semua pihak," tutur dia.
              Terkait  pembahasan  yang  dinilai  cukup  cepat,  Ibnu  menyatakan,  pihaknya  serbasalah.
              Pembahasan RUU cepat dipersoalkan. Pembahasan lama juga dipermasalahkan. Menurut dia,
              hal itu sudah biasa dan menjadi dinamika dalam demokrasi.

              Terkait tudingan bahwa RUU Ciptaker merupakan titipan pemilik modal, politikus PKB tersebut
              mengatakan  bahwa  RUU  itu  usul  pemerintah.  Jadi,  baleg  membahas  apa  yang  disampaikan
              pemerintah. Tidak ada titipan dari pihak lain.

              Wakil Ketua Baleg DPR Achmad Baidowi menerangkan, hari ini pihaknya akan menyerahkan hasil
              pembahasan  dan  kesepakatan  RUU  Ciptaker  kepada  pimpinan  DPR.  Soal  kapan  pengesahan
              dilakukan, pihaknya tidak bisa memastikan. Yang jelas baleg sudah menyelesaikan tugasnya.
              "Pembahasan RUU Ciptaker selesai dalam tiga masa sidang sesuai aturan yang ada," ujarnya.

              Tidak semua fraksi yang hadir dalam rapat pembahasan omnibus law Sabtu malam itu setuju.
              Dua fraksi menyatakan menolak secara tegas, yakni Fraksi Partai Demokrat dan PKS. Keduanya
              menilai masih banyak yang perlu dibahas dengan lebih komprehensif. Anggota Baleg DPR dari
              Fraksi  PKS  Leida  Hanifa  Amaliah  menegaskan,  arah  dan  jangkauan  RUU  tersebut  akan
              berdampak pada lebih dari 78 UU. Atas pertimbangan itu, seharusnya pembahasan tidak bisa
              dikebut begitu saja.

              Senada,  Partai  Demokrat  menilai  pembahasan  RUU  itu  terlalu  terburu-buru  dan  kurang
              mencakup stakeholders yang berkepentingan, yakni rakyat, khususnya pekerja. Wakil Sekjen
              Partai  Demokrat  Irwan  menyatakan,  banyak  pasal  bermasalah  yang  justru  tidak  berkaitan
              dengan lapangan pekerjaan, tapi lebih pada perampasan lahan rakyat semudah mungkin untuk
              proyek strategis pemerintah.

              Irwan menyayangkan pembahasan RUU yang sudah kehilangan roh secara fisiologis, sosiologis,
              dan yuridis di tengah pandemi saat ini. "Walaupun telah disetujui sebagian besar fraksi di DPR,
              ada baiknya presiden tidak melanjutkan pengesahan UU Cipta Kerja ini."  Pemerintah Tetap
              Optimistis  Dari sisi pemerintah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto
              meyakini  bahwa  RUU  Ciptaker  akan  membawa  manfaat  besar.  Terutama  untuk  mendorong
              pemulihan ekonomi nasional. Dia juga yakin RUU itu akan membawa Indonesia memasuki era
              baru  perekonomian  global  untuk  mewujudkan  masyarakat  yang  makmur,  sejahtera,  dan
              berkeadilan.  "RUU  Ciptaker  akan  mendorong  reformasi  regulasi  dan  debirokratisasi  sehingga
              pelayanan  pemerintahan  akan  lebih  efisien,  mudah,  dan  pasti.  Dengan  adanya  penerapan
              norma, standar, prosedur, dan kriteria (NSPK) dan penggunaan sistem elektronik," ujar dia di
              Jakarta akhir pekan lalu.
              Terkait  perlindungan  kepada  pekerja,  menurut  Airlangga,  RUU  Ciptaker  menjamin  adanya
              kepastian dalam pemberian pesangon. Pemerintah menerapkan program jaminan kehilangan
              pekerjaan (JKP) dengan tidak mengurangi manfaat jaminan kecelakaan kerja (JKK), jaminan
              kematian (JKm), jaminan hari tua (JHT), dan jaminan pensiun (JP) serta tidak menambah beban
              iuran dari pekerja atau pengusaha.


                                                           743
   739   740   741   742   743   744   745   746   747   748   749