Page 740 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2020
P. 740

"Maka kami, Aliansi BEM SI menyatakan mosi tidak percaya kepada pemerintah dan wakil rakyat
              Indonesia (DPR). Bengkulu, 4 Oktober, Jam 20.00," kata Koordinator Pusat Aliansi BEM SI, Remy
              Hastian melalui Instagram @Bem_SI, diunggah Minggu (4/10) malam.

              Remy menyatakan mosi tidak percaya dilayangkan karena pemerintah telah melanggar Pasal
              28H ayat (1) UUD 1945, yang mengesahkan beragam RUU bermasalah, termasuk Omnibus Law
              Ciptaker dalam waktu dekat.

              Ia menyebut keberadaan Omnibus Law Ciptaker juga akan merampas hak hidup rakyat dan
              lingkungan, padahal pemerintah diamanatkan UUD 1945 untuk menjaga kedua aspek tersebut.

              Kemudian, kata Remy, pemerintah dan DPR juga telah menindas hak-hak rakyat dan melanggar
              Pasal 28E ayat (3) UUD 1945. Selain itu, pemerintah dan DPR juga dinilai gagal mengelola negara
              sesuai alinea keempat pembukaan UUD 1945.

              Menurut Remy, kesenjangan sosial antara masyarakat masih tinggi. Sektor kesehatan juga masih
              lemah di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Selain itu, pemerintah serta DPR juga dinilai
              tidak mengutamakan pendidikan.

              Remy  mengatakan  pihaknya  menyayangkan  langkah  DPR  yang  sepakat  untuk  mengesahkan
              RUU Ciptaker pada tingkat paripurna. Menurutnya, pemerintah dan DPR seharusnya kini fokus
              menangani pandemi Covid-19.

              BEM SI, kata Remy, berencana menggelar aksi di depan Gedung MPR/DPR dalam waktu dekat.
              Remy  mengatakan  pihaknya  tidak  akan  berhenti  memperjuangkan  aspirasinya  sampai  RUU
              Ciptaker dibatalkan.

              "Kita menyerukan masyarakat yang memiliki keresahan yang sama turut serta, kita ambil hak
              kita. Kita menyerukan rakyat Indonesia turut serta bersama mahasiswa untuk menyampaikan
              aspirasi di gedung DPR yang katanya mewakili rakyat," ujarnya.

              76 Ribu Orang Tolak Omnibus Law  Penolakan terhadap RUU Cipta Kerja juga diserukan 76.962
              orang melalui petisi online. Melalui situs change.org, mereka meminta DPR tidak menjadikan
              pandemi Covid-19 sebagai kesempatan meloloskan peraturan kontroversial tersebut.

              "Mari  bersama-sama  meminta  wakil  rakyat  kita  di  DPR  RI  jangan  ambil  kesempatan  untuk
              loloskan  legislasi  yang  kontroversial,  fokus  dan  prioritaskan  kebijakan  menyelesaikan  krisis
              corona dan dampaknya di Indonesia," tulis petisi tersebut.
              Penulis petisi, Asep Komarudin mempertanyakan langkah DPR meloloskan RUU Ciptaker di Baleg.
              Menurutnya, masih banyak hal yang seharusnya lebih diprioritaskan di tengah pandemi Covid-
              19.

              Asep juga memprotes tak dilibatkannya masyarakat dalam pembuatan peraturan perundang-
              undangan  di  tengah  pandemi.  Ia  menyebut  saluran  informasi  dan  mekanisme  partisipasi
              masyarakat yang akuntabel diperlukan.

              "Kenapa  agenda  pembahasan  RUU  kontroversial  yang  mendapat  penolakan  rakyat  justru
              dilanjutkan? Apakah aji mumpung karena atensi rakyat sedang fokus ke Covid-19 dan tidak bisa
              langsung turun ke jalan?" ujarnya.

              Untuk itu, Asep meminta DPR tidak melanjutkan pembahasan ragam RUU yang kontroversial
              dan ditolak masyarakat hingga pandemi terkendali. Ini termasuk RUU Ciptaker, RKUHP, RUU
              Pemasyarakatan, hingga RUU Pertahanan.





                                                           739
   735   736   737   738   739   740   741   742   743   744   745