Page 807 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2020
P. 807
SELANGKAH MENUJU PENGESAHAN RUU CIPTA KERJA DAN SUARA RAKYAT YANG
DIABAIKAN...
Pembahasan Omnibus Law RUU Cipta telah diselesaikan DPR dan pemerintah pada Sabtu
(3/10/2020) malam.
RUU Cipta Kerja , kini tinggal selangkah lagi untuk disahkan menjadi undang-undang melalui
rapat paripurna DPR.
Meski belum ada jadwal resmi, tetapi yang pasti DPR akan memasuki masa reses pada 9 Oktober.
Artinya DPR akan menggelar rapat paripurna sebelum tanggal tersebut.
Dalam rapat kerja pengambilan keputusan Sabtu malam lalu, hanya dua dari sembilan fraksi
yang menolak hasil pembahasan RUU Cipta Kerja.
Dua fraksi itu, yakni PKS dan Partai Demokrat yang menyatakan menolak RUU Cipta Kerja
disahkan menjadi undang-undang.
Anggota Fraksi Partai Demokrat Hinca Pandjaitan menganggap RUU Cipta Kerja tidak memiliki
nilai kegentingan di tengah dampak pandemi Covid-19 yang saat ini dihadapi Indonesia.
Selain itu, ia berpendapat RUU Cipta Kerja berpotensi memberangus hak-hak pekerja dan
pembahasannya sejak awal cacat prosedur.
"Fraksi Demokrat menyatakan menolak pembahasan RUU Cipta Kerja ini. Fraksi Demokrat
menilai, banyak hal yang harus dibahas kembali secara lebih mendalam dan komprehensif, tidak
perlu terburu-buru," ujar dia.
Anggota Fraksi PKS Ledia Hanifa sependapat dengan Hinca. Fraksi PKS menolak RUU Cipta Kerja
karena pembahasannya dinilai tidak sensitif dengan situasi yang terjadi saat ini.
Pelibatan publik dalam pembahasan RUU Cipta Kerja juga dikatakan minim.
"RUU Cipta Kerja tidak tepat membaca situasi," kata Ledia.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, menyatakan,
hadirnya RUU Cipta Kerja akan mendorong pemulihan ekonomi nasional di tengah pandemi.
RUU Cipta Kerja dinilai akan mempermudah proses perizinan dan masuknya investasi di Tanah
Air. Hasilnya, akan banyak pembukaan lapangan kerja.
"RUU Cipta Kerja akan mendorong reformasi regulasi dan debirokratisasi, sehingga pelayanan
pemerintahan akan lebih efisien mudah dan pastinya dengan ada penerapan Norma, Standar,
Prosedur, dan Kriteria (NSPK) dan penggunaan sistem elektronik," ujar Airlangga melalui siaran
pers, Minggu (4/10/2020).
Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta Arif Maulana menyebut, pembentukan Omnibus
Law RUU Cipta Kerja sangat mengabaikan kepentingan rakyat.
Proses pembentukan RUU ini dilaksanakan secara tertutup, sembunyi-sembunyi serta
diskriminatif karena hanya melibatkan kelompok pengusaha dan sebaliknya mengabaikan warga.
DPR disebut bukan lagi wakil rakyat, melainkan wakil pemodal dan pengusaha.
"Kita melihat yang duduk di Senayan sana hari ini bukan wakil-wakil rakyat, tapi mereka adalah
wakil-wakil pengusaha. Bukan wakil-wakil rakyat, tetapi mereka adalah wakil-wakil pemodal,"
kata Arif dalam sebuah konferensi pers daring, Minggu (4/10/2020).
806

