Page 810 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2020
P. 810
"Kami akan terus melakukan perlawanan dan menolak atas disahkannya RUU Cipta Kerja
tersebut dengan cara melakukan aksi," kata Ketua DPR KSPN Jateng, Nanang Setyono dalam
keterangan tertulis, Senin (5/10).
Nanang menyatakan DPR maupun pemerintah sudah tak peduli nasib buruh karena berencana
mengesahkan RUU Ciptaker dalam Rapat Paripurna mendatang. Menurutnya, nasib buruh akan
semakin memprihatinkan pada masa mendatang.
"Mengecam atas kebijakan DPR RI yang mengabaikan aspirasi rakyat seluruh Indonesia,"
ujarnya.
Nanang menyebut DPR maupun pemerintah mengambil kesempatan dan memanfaatkan kondisi
pandemi virus corona untuk terus membahas RUU Ciptaker hinga akhirnya menyepakati
membawa rancangan tersebut untuk disepakati di tingkat paripurna.
"Sungguh tidak memiliki hati nurani DPR dan pemerintah jika tetap memaksakan mengesahkan
Omnibus Law RUU Cipta Kerja yang sejak lahir cacat dan di tolak oleh seluruh buruh yang
notabene bagian dari rakyat Indonesia," katanya.
Nanang mengatakan pihaknya sejak awal sudah menolak keberadaan RUU Ciptaker.
Berdasarkan kajian pihaknya, isi RUU tersebut telah mendegradasi nilai kesejahteraan dan
perlindungan buruh sebagaimana yang ada dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan.
"Tujuan dibentuknya sebuah undang-undang untuk memberi perlindungan dan kesejahteraan
bagi masyarakat," ujarnya.
DPR dan pemerintah telah menyelesaikan pembahasan RUU Ciptaker pada tingkat I atau saat di
Badan Legislasi (Baleg) Sabtu (3/10) malam. Tujuh fraksi, PDIP, Golkar Gerindra, PKB, NasDem,
PAN, PPP setuju RUU dibawa ke tingkat paripurna, sementara dua fraksi, Demokrat dan PKS
menolak.
Meskipun mendapat penolakan dari dua fraksi, RUU Ciptaker tetap akan dibawa ke Paripurna
pada 8 Oktober mendatang untuk disahkan.
Sejumlah elemen buruh telah menyerukan mogok nasional pada 6-8 Oktober. Selain kelompok
buruh, para petani di sejumlah daerah juga akan turun aksi menolak RUU Ciptaker, yang
merupakan kebijakan ambisius Presiden Joko Widodo pada periode keduanya ini.
(tim/fra).
809

