Page 207 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 APRIL 2021
P. 207

MENAKER IDA INGATKAN PERUSAHAAN TELAT BAYAR THR BAKAL KENA SANKSI
              DENDA
              Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah kembali mengingatkan kepada seluruh pelaku usaha di
              Indonesia untuk taat membayarkan Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan tepat waktu hingga
              H-7 Idul Fitri 2021. Menyusul adanya sejumlah sanksi yang siap menjerat pelaku usaha nakal.

              "Saya  kira  sudah  pernah  saya  sampaikan  pada  waktu  menyampaikan  tentang  surat  edaran
              pembayaran THR 2021, jika terlambat membayar sebagaimana ketentuan peraturan perundang-
              undangan  maka  dikenakan  (sanksi),"  tegas  Menaker  Ida  dalam  acara  Launching  Posko  THR
              Tahun 2021 dan Call Center 1500-630 di Jakarta, Senin (19/4).

              Dia menjelaskan, sanksi denda akan menjadi opsi pertama yang diberikan kepada perusahaan
              yang  telat  membayarkan  THR  Keagamaan  di  tahun  ini.  Adapun,  besaran  denda  yang  harus
              dibayarkan sebesar 5 persen dari nilai THR yang harus dibayarkan kepada pekerja atau buruh.
              Sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor 6 Tahun
              2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.

              "Denda digunakan untuk kepentingan kesejahteraan pekerja atau buruh," terangnya.

              Selain  itu,  perusahaan  yang  terlambat  membayarkan  THR  kepada  karyawannya  juga  bisa
              dikenakan sanksi administratif. Pemberian sanksi administrasi tersebut akan dilakukan secara
              bertahap merujuk Peraturan Pemerintah Nomor 36 tahun 2021 tentang Pengupahan.

              Dalam beleid tersebut, tingkatkan pemberian sanksi administrasi diatur dalam empat tahapan.
              Yakni berupa teguran tertulis, pembatasan kegiatan usaha, penghentian sementara sebagian
              atau seluruh alat produksi, hingga pembekuan kegiatan usaha.

              "Sanksi  administrasi  yang  dikenakan  kepada  teman-teman  pengusaha  saya  sudah  pernah
              jelaskan waktu yang lalu," tegasnya.

              Sebelumnya, Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah memberikan ultimatum bagi perusahaan
              yang telat membayarkan Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan hingga H-7 Idul Fitri 2021.
              Yakni berupa pemberian denda hingga sanksi administrasi bagi perusahaan bandel tersebut.

              Terkait denda, perusahaan diwajibkan membayar 5 persen dari nilai THR yang harus dibayarkan
              kepada pekerja atau buruh. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam Peraturan
              Menteri  Ketenagakerjaan  (Permenaker)  Nomor  6  Tahun  2016  tentang  Tunjangan  Hari  Raya
              Keagamaan Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.

              "Denda  5  persen  dari  total  THR  harus  di  bayarkan  saat  berakhirnya  batas  waktu  kewajiban
              pengusaha untuk membayar," ucapnya dalam acara konferensi pers tentang Tunjangan Hari
              Raya Keagamaan Tahun 2021, Senin (12/4).
              Sedangkan  terkait  dengan  sanksi  administratif  bagi  perusahaan  yang  tidak  membayar  THR
              keagamaan sesuai dengan batas waktu yang di tentukan akan merujuk peraturan pemerintah
              Nomor 36 tahun 2021 tentang Pengupahan pasal 9 ayat 1 dan 2. Menaker Ida bilang, pemberian
              sanksi sendiri akan dilakukan secara bertahap.

              "Sanksi administratif tersebut yang pertama berupa poin a: teguran tertulis, poin b: pembatasan
              kegiatan usaha, poin c: penghentian sementara sebagian atau seluruh alat produksi, dan poin
              d: pembekuan kegiatan usaha," bebernya.
              Pemberian  sanksi  administrasi  tersebut  juga  tak  serta  merta  menggugurkan  kewajiban
              perusahaan  untuk  membayarkan  THR  Keagamaan  kepada  pekerja  atau  buruh  sebagaimana
              diatur dalam peraturan perundang-undangan. "Saya kira itu ya sama," tutupnya. [azz].

                                                           206
   202   203   204   205   206   207   208   209   210   211   212