Page 10 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 11 JANUARI 2021
P. 10

Penyusunan Naskah Akademik juga harus melibatkan para ahli, wakil instansi terkait, perguruan
              tinggi,  dan  masyarakat.  Selain  itu,  di  dalam  Naskah  Akademik,  tertera  banyak  sekali  latar
              belakang dan isu-isu yang sedang terjadi, di mana rancangan undang-undang baru bertugas
              untuk merevisi undang-undang yang lama dan menyelesaikan seluruh permasalahan yang terjadi
              dengan regulasi sebelumnya.

              Terlepas dari polemik hilangnya kontribusi dari para ahli dan tokoh sebagaimana yang disebutkan
              di  atas  akibat  tidak  dilibatkannya  pemangku  kepentingan  tersebut  dalam  proses  formulasi
              rancangan  undang-undang,  perlu  diselami  lebih  jauh  pertimbangan  para  legislator  atas
              "reformasi"  hukum  terhadap  pasal-pasal  yang  telah  di  bahas  di  atas.  Sehubungan  dengan
              ketentuan  outsourcing,  misalnya,  di  dalam  Naskah  Akademik  dituliskan  bahwa  pembatasan
              pemborongan pekerjaan dan penyediaan jasa pekerja alih daya masih menjadi isu di tengah
              pemberi kerja dan pekerja.

              Pemberi  kerja  ingin  pemborongan  pekerjaan  tidak  dibatasi  oleh  regulasi,  dan  pekerja  ingin
              dibatasi secara ketat seperti yang sudah diatur di dalam UU Ketenagakerjaan. Selain itu, terdapat
              kesulitan untuk menentukan pekerjaan inti dan pekerjaan bukan inti secara rinci dan tegas yang
              diakibatkan oleh keragaman pekerjaan lintas sektor dan lintas perusahaan. Permasalahan yang
              dapat  menimbulkan  kekosongan  hukum  tidak  mendapatkan  solusi  yang  sepadan,  sehingga
              tampak bahwa pemerintah terkesan terburu-buru, tidak teliti, dan berat sebelah dalam mengatur
              hak dan kewajiban, maupun hubungan antara Pemberi Kerja dan Pekerja.

              Untuk perjanjian kerja waktu tertentu, sebenarnya tidak ada permasalahan atau isu besar yang
              harus dituntaskan. Bahkan, Naskah Akademik hanya memperjelas pengertian, sifat, dan ciri-ciri
              dari  PKWT  itu  sendiri,  di  mana  penjelasan  tersebut  sudah  tercantum  di  dalam  UU
              Ketenagakerjaan. Dengan tidak adanya suatu kebaharuan hukum yang signifikan, Pemerintah
              justru menangguhkan total pasal 59 UU Ketenagakerjaan yang memberikan batasan maksimal
              sebesar 3 tahun dalam menjalankan PKWT yang menimbulkan ambiguitas pengertian "waktu
              tertentu"  sehingga  dapat  diartikan  hanya  ada  masa  kerja  "tidak  tertentu"  yang  bersifat
              permanen.

              Terakhir, berkaitan dengan pesangon di dalam Naskah Akademik, dituliskan bahwa masih terjadi
              masalah berupa ketidakpastian pihak pemberi kerja dalam membayar jumlah uang pesangon.
              Sekali lagi, Pemerintah tidak menyelesaikan masalah tersebut yang terletak pada pihak pemberi
              kerja. Justru pemerintah memihak kepada pemberi kerja dengan menciptakan masalah baru
              yang tidak dicantumkan di dalam naskah akademik, yaitu mengurangi jumlah pesangon yang
              didapat pekerja.

              Dengan  demikian,  Undang-uncang  Cipta  Lapangan  Kerja  yang  diplesetkan  oleh  masyarakat
              menjadi UU CILAKA bukanlah suatu bentuk kritik tanpa dasar semata. Protes mengenai cacat
              substantif dan prosedur pun masih melanda.

              Di  tahun  2021,  banyak  pekerjaan  rumah  yang  menunggu  baik  Pemerintah,  terutama  para
              penegak hukum, dalam memastikan implementasi UU Cipta Kerja secara maksimal, sehingga
              tercipta kepastian, kemanfaatan dan keadilan hukum. Sudah menjadi kewajiban Pemerintah dan
              seluruh  kalangan  masyarakat  untuk  mengawal  implementasi  dari  instrumen  hukum  yang
              "unprecedented" atau betul-betul baru seperti UU Cipta Kerja. Semoga laju dari UU Cipta Kerja
              menuju ke arah yang dapat menjamin kesejahteraan rakyat dan terdengar kabar baik mengenai
              nasib pekerja.

              ^Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan

              **Dosen Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan



                                                            9
   5   6   7   8   9   10   11   12   13   14   15