Page 9 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 11 JANUARI 2021
P. 9

UMKM,  pengendalian  lahan,  kemudahan  proyek  pemerintah,  kawasan  ekonomi  khusus,
              administrasi pemerintah, serta dukungan terhadap riset dan inovasi.
              Walaupun Undang-Undang Cipta Lapangan kerja awalnya digadang-gadang sebagai solusi yang
              sangat mumpuni atas peliknya birokrasi dan hukum, tetap muncul berbagai macam aksi protes
              dari elemen-elemen masyarakat dari awal proses perundangan hingga akhirnya UU Cipta Kerja
              disahkan.  Undang-Undang  Cipta  Lapangan  Kerja  ini  bahkan  "diplesetkan"  oleh  masyarakat
              menjadi "UU CILAKA", dan dianggap memiliki cacat, baik substantif maupun prosedural. Salah
              satu  contoh  "kecilakaan"  yang  dikhawatirkan  masyarakat  termanifestasi  dalam  klausa-klausa
              yang mengatur perihal ketenagakerjaan, yang dianggap hanya menguntungkan pihak pemberi
              kerja saja, sementara pihak pekerja justru sangat dirugikan.

              Bagian yang dianggap hanya menguntungkan pihak pemberi kerja tersebut antara lain terletak
              pada regulasi mengenai outsourcing, perjanjian kerja waktu tertentu, dan pemberian pesangon.
              Berkaitan  dengan  alih  daya  atau  outsourcing  dalam  UU  Cipta  Kerja,  terdapat  penghapusan
              regulasi,  antara  lain  Pasal  64  dan  65  Undang-undang  No.  13  Tahun  2003  tentang
              Ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan) yang awalnya mengatur berbagai macam persyaratan
              bagi perusahaan untuk melakukan tindak alih daya.

              Dengan  dihapusnya  kedua  pasal  tersebut,  peraturan  turunan  atau  pelaksana  lain,  seperti
              Peraturan  Menteri  Tenaga  Kerja  dan  Trasmigrasi  (Permenakertrans)  kehilangan  landasan
              hukumnya.  Contoh  spesifik  akibat  dari  hilangnya  landasan  hukum  tersebut  adalah  ketika
              pengaturan  mengenai  5  bidang  di  luar  pekerjaan  utama  yang  boleh  dialihdaya  berdasarkan
              Permenakertrans, yaitu jasa pembersihan, keamanan, transportasi, katering dan jasa minyak
              dan  gas  pertambangan  terimbas  penghapusan  pasal-pasal  di  atas,  maka  hilanglah  pula  job
              security (kepastian kerja) dari para pekerja, karena jenis pekerjaaan alih daya sudah tidak lagi
              diatur secara khusus dan bisa tumpang tindih dengan pekerjaan utama.

              Selain itu, sehubungan dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), di mana dalam Pasal
              59 UU Ketenagakerjaan, dijabarkan ketentuan sifat dan jenis perjanjian kerja yang termasuk ke
              dalam PKWT. Akan tetapi, UU Cipta Kerja menghapus seluruh ketentuan di dalam pasal tersebut

              Dengan adanya penghapusan pasal yang bersifat teknis, pastinya akan terjadi fenomena multi
              tafsir di mana regulasi mengenai PKWT kini memberikan pengertian yang luas bagi masyarakat
              dan bisa berdampak kepada pekerja, terutama yang hendak terikat pada PKWT. Pasal mengenai
              pemberian pesangon pun mengalami perubahan, di mana kewajiban daripada pemberi pekerja
              untuk memberikan pesangon kepada kaum pekerja dalam UU Ketenagakerjaan (misalnya Pasal
              88 mengenai hak pesangon, Pasal 156 tentang pengaturan jumlah uang pesangon saat terjadi
              PHK, sebagaimana diatur hal-hal lain yang relevan pula dalam Pasal 163 dan 164). Perubahan
              terhadap  pasal-pasal  yang  mengatur  tentang  pesangon  berakibat,  antara  lain,  hilangnya
              perlindungan  hukum  bagi  para  pekerja  atas  hak  mereka  untuk  mendapatkan  potensi  uang
              pesangon secara maksimal.

              Di  samping  penjelasan  mengenai  tiga  bidang  ketenagakerjaan  yang  tampak  "diperlemah"
              kedudukannya  oleh  UU  Cipta  Kerja  di  atas,  tentunya  dasar  pertimbangan  Pemerintah  yang
              dituangkan dalam Naskah Akademik dapat menjadi indikasi politik hukum di balik disahkannya
              UU Cipta Kerja.

              Berdasarkan  Pasal  1(1)  Peraturan  Menteri  Hukum  dan  HAM  No.  97  Tahun  2008  Tentang
              Pedoman Penyusunan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Perundang-Undangan, Naskah
              Akademik adalah naskah yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai konsepsi
              yang  berisi  latar  belakang,  tujuan  penyusunan,  sasaran  yang  ingin  diwujudkan  dan  lingkup,
              jangkauan, objek, atau arah pengaturan substansi rancangan peraturan perundang-undangan.




                                                            8
   4   5   6   7   8   9   10   11   12   13   14