Page 161 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 11 JANUARI 2021
P. 161

Ringkasan

              Menteri  Ketenagakerjaan  (Menaker),  Ida  Fauziyah  harus  memperbaiki  kinerja  pengawas
              ketenagakerjaan dan penegakkan hukum baik di tingkat pusat maupun propinsi. Menaker harus
              membuat sistem kontrol dan evaluasi kinerja pengawas supaya mereka tidak bermain dengan
              pengusaha, yang pasti akan merugikan pekerja.

              Demikian  ditegaskan  Sekjen  Organisasi  Pekerja  Seluruh  Indonesia  (Opsi),  Timboel  Siregar,
              kepada Beritasatu.com, Jumat (8/1/2020). "Pengawas-pengawas nakal harus dipecat. Tapi, yang
              paling penting Menaker tidak menerima setoran dari pihak pengawas ketenagakerjaan, melalui
              dirjennya. Menaker harus jadi sapu yang bersih," kata Timboel.



              MENAKER DIDESAK REFORMASI PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN
              Jakarta, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Ida Fauziyah harus memperbaiki kinerja pengawas
              ketenagakerjaan dan penegakkan hukum baik di tingkat pusat maupun propinsi. Menaker harus
              membuat sistem kontrol dan evaluasi kinerja pengawas supaya mereka tidak bermain dengan
              pengusaha, yang pasti akan merugikan pekerja.

              Demikian  ditegaskan  Sekjen  Organisasi  Pekerja  Seluruh  Indonesia  (Opsi),  Timboel  Siregar,
              kepada Beritasatu.com, Jumat (8/1/2020). "Pengawas-pengawas nakal harus dipecat. Tapi, yang
              paling penting Menaker tidak menerima setoran dari pihak pengawas ketenagakerjaan, melalui
              dirjennya. Menaker harus jadi sapu yang bersih," kata Timboel.

              Menurut Timboel, banyak pejabat dan pegawai pengawasan ketenagakerhaan di lantai tujuh
              Gedung Kemnaker yang harus dimutasi karena mereka sudah sangat nyaman di pengawasan
              selama ini sehingga kinerjanya sangat lemah. "Mensejahterakan pekerja melalui jaminan sosial
              ketenagakerjaan dimulai dari regulasi dan pengawasan ketenagakerjaan yang mumpuni," kata
              Timboel.

              Timboel  tidak  berlebihan.  Informasi  yang  dikumpulkan  Beritasatu.com,  ada  sejumlah  oknum
              pengawas ketenagakerjaan yang bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan nakal seperti
              pengusaha  yang  tidak  membayar  iuran  BPJamsostek,  perusahaan  pengiriman  tenaga  kerja
              Indonesia ilegal, dll.

              Bahkan, sampai ini ada pejabat di Pengawasan Ketenagakerjaan yang sudah bertahun-tahun
              sakit lumpuh karena sakit store tetapi malah lulus dalam penjaringan eselon I di Kemnaker. Dari
              11 orang yang lulus seleksi akhir tes jadi eselon I di Kemnaker, baru-baru ini, dua orang yang
              sakit stroke. Satu orang yang ke sana kemari pakai kursi roda, satu orang berjalan pincang.
              Informasi yang dikumpulkan, dua pejabat yang sakit ini lulus sampai seleksi karena "bermain"
              dengan staf khusus Menaker berinisial, DI.

              Sekjen Kemnaker, Anwar Sanusi enggan memberikan komentar mengenai benar atau tidaknya
              informasi  mengenai  lulusnya  dua  pejabat  yang  sakit  ini  untuk  menjadi  pejabat  eselon  I  di
              Kemnaker karena adanya "permainan" dengan staf khusus menteri. Anwar Sanusi adalah Ketua
              Panitia Seleksi pejabat eselon I di Kemnaker.

              Tidak  Ikut  BPJamsostek  Menurut  Timboel,  persoalan  yang  terjadi  sampai  saat  ini  masih
              rendahnya pekerja formal yang ikut BPJamsostek. Selain itu, masih adanya pengusaha  yang
              membayar iuran tidak berdasarkan upah pekerja sesungguhnya, masih adanya pekerja yang
              didaftarkan  di  tiga  program  atau  dua  program  jaminan  sosial  ketenagakerjaan  merupakan
              produk lemahnya pengawasan ketenagakerjaan dan penegakkan hukum.




                                                           160
   156   157   158   159   160   161   162   163   164   165   166