Page 54 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 11 JANUARI 2021
P. 54

melakukan PHK dan membayar pesangon setengah dari pengaturan pesangon yang ada di UU
              Cipta kerja karena beberapa alasan.
              Alasan tersebut antara lain pengusaha dapat melakukan Pemutusan Hubungan Kerja terhadap
              Pekerja/Buruh karena mengalami kerugian tidak secara terus menerus selama 2 (dua) tahun.
              Kemudian,  karena  alasan  Perusahaan  melakukan  efisiensi  yang  disebabkan  Perusahaan
              mengalami  kerugian;  alasan  Perusahaan  dalam  keadaan  penundaan  kewajiban  pembayaran
              utang yang disebabkan Perusahaan mengalami kerugian.

              Selanjutnya, karena alasan Perusahaan pailit; karena alasan Perusahaan tutup yang disebabkan
              keadaan memaksa (force majeur). Maupun disebabkan Perusahaan mengalami kerugian secara
              terus menerus selama 2 (dua) tahun.

              Ketua  Komite  Tetap  Ketenagakerjaan  Kadin  Indonesia,  Bob  Azzam  mengatakan,  pengaturan
              tersebut terbilang wajar karena perusahaan yang sedang dalam keadaan-keadaan tersebut di
              atas perlu keringanan untuk membayar pesangon.
              "Kalau rugi atau force majeur wajar diberi keringanan untuk pesangon. Yang penting harus ada
              kepastian," kata Bob kepada Kontan, Minggu (10/1).

              Meski  begitu,  Bob  mengusulkan  ada  skema  lain  dalam  pembayaran  pesangon  agar  tidak
              memberatkan perusahaan jika dalam keadaan tersebut. Misalnya skema dana pesangon seperti
              dana untuk masa depan.

              "Pesangon  mestinya  reserve  dana-nya  dalam  bentuk  dana  masa  depan,  jangan  tergantung
              keuangan perusahaan saat itu, udah pasti sulit," terang dia.

              Lebih lanjut Bob mengatakan, dalam tahap serap aspirasi nanti, perlu ada komunikasi yang baik
              untuk memberikan sosialisasi maksud dan tujuan RPP tersebut. Sehingga bisa saling mengisi
              antara pemerintah, pengusaha dan pekerja.

              "Dibangunlah  narasi  yang  bagus  (PP  nya),  komunikasi  yang  bagus  sehingga  orang  paham
              mengerti maksud dan tujuannya, sosial dialog harus diberdayakan," tutur Bob.




































                                                           53
   49   50   51   52   53   54   55   56   57   58   59