Page 58 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 11 JANUARI 2021
P. 58

Direktur Jenderal Binapenta dan PKK Kemenaker Suhartono meminta kepada seluruh Perusahaan
              Penempatan  Pekerja  Migran  Indonesia  (P3MI)  untuk  tetap  menerapkan  protokol  kesehatan
              secara  ketat  di  setiap  tahapan  proses  penempatan  PMI  sesuai  dengan  Keputusan  Menteri
              Ketenagakerjaan Nomor 294/2020 tentang Pelaksanaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia
              pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru. Sebagaimana diketahui, terbitnya aturan tersebut menjadi
              penanda kembali dibukanya keran pengiriman PMI setelah sempat ditutup sementara pada 18
              Maret 2020.

              Suhartono mengatakan penempatan PMI Untuk Kepentingan Perusahaan Sendiri (UKPS) dapat
              dilakukan ke semua negara tujuan penempatan selama otorita di negara tersebut memberi izin
              masuknya tenaga kerja asing dengan menerapkan protokol kesehatan masing-masing.

              "Hal ini dilakukan untuk memastikan adanya pelindungan dan jaminan kesehatan bagi para PMI
              yang  bekerja  di  negara-negara  penempatan.  Untuk  perusahaan  yang  akan  melakukan
              penempatan PMI UKPS juga harus mendapatkan izin dari kementerian yang menyelenggarakan
              urusan bidang ketenagakerjaan," kata Suhartono dalam keterangan resmi, Minggu (10/1/2021).

              Berikut daftar negara-negara tujuan penempatan beserta sektor dan skema penempatannya:

              1. Hungaria dengan sektor pekerjaan industri permesinan atau mesin pendingin pada pemberi
              kerja berbadan hukum. Adapun skema penempatan oleh Perusahaan Penempatan PMI (P to P)
              dan PMI Perseorangan.

              2. Hong Kong dengan sektor PMI yang bekerja pada pemberi kerja perseorangan. Adapun skema
              penempatan oleh Perusahaan Penempatan PMI (P to P).

              3. Irak dengan semua sektor pada pemberi kerja berbadan hukum, kecuali sektor rumah tangga.
              Sementara  skema  penempatan  oleh  Perusahaan  Penempatan  PMI  (P  to  P)  dan  PMI
              Perseorangan.

              4. Kerajaan Arab Saudi dengan semua sektor pada pemberi kerja berbadan hukum. Sementara
              skema  penempatan  oleh  Badan  Pelindungan  PMI  (G  to  G  dan  G  to  P);  Penempatan  oleh
              Perusahaan Penempatan PMI (P to P); dan PMI Perseorangan.

              5.  Korea  Selatan  dengan  semua  sektor  pada  pemberi  kerja  berbadan  hukum.  Adapun
              penempatan  oleh  Badan  Pelindungan  PMI  Pekerja  (G  to  G);  Penempatan  oleh  Perusahaan
              Penempatan PMI (P to P); dan PMI Perseorangan.

              6. Maladewa dengan sektor industri perhotelan, restoran, kafe dan/atau spa pada pemberi kerja
              berbadan hukum. Adapun skema penempatan oleh Perusahaan Penempatan PMI (P to P) dan
              PMI Perseorangan.

              7.  Nigeria  dengan  semua  sektor  pada  pemberi  kerja  berbadan  hukum.  Adapun  skema
              penempatan oleh Perusahaan Penempatan PMI (P to P).

              8. Persatuan Emirat Arab dengan semua sektor pada pemberi kerja berbadan hukum, kecuali
              sektor  rumah  tangga.  Adapun  skema  penempatan  oleh  Badan  Pelindungan  Pekerja  Migran
              Indonesia (G to G dan G to P); Penempatan oleh Perusahaan penempatan PMI (P to P); dan PMI
              Perseorangan.

              9. Polandia dengan semua sektor pada pemberi kerja berbadan hukum. Adapun penempatan
              oleh Badan Pelindungan PMI (G to G dan G to P) dan Penempatan oleh Perusahaan Penempatan
              PMI (P to P).






                                                           57
   53   54   55   56   57   58   59   60   61   62   63