Page 220 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 AGUSTUS 2021
P. 220
penting bagi institusi pendidikan, milenial, dan pelaku usaha untuk bangkit bersama dan terus
berkarya. Menurutnya, hal ini penting dilakukan guna menopang pertumbuhan ekonomi
Indonesia.
PRODUKTIVITAS MILENIAL RI DI BAWAH NEGARA ASEAN, INI PESAN KEMNAKER
Kementerian Ketenagakerjaan melalui Politeknik Ketenagakerjaan menggelar acara Ngopi Daring
Nasional bertema 'How To Boost Millenial HR During Pandemic' kemarin. Adapun kegiatan ini
dilakukan untuk mendorong milenial terus berkarya dan berkontribusi positif di era adaptasi baru.
Sekretaris Jenderal Kemnaker, Anwar Sanusi mengatakan masa pandemi menjadi momentum
penting bagi institusi pendidikan, milenial, dan pelaku usaha untuk bangkit bersama dan terus
berkarya. Menurutnya, hal ini penting dilakukan guna menopang pertumbuhan ekonomi
Indonesia.
"Bagi institusi pendidikan, khususnya Polteknaker, harus terus mampu mengedepankan research
and development yang terprogram bagi peningkatan SDM generasi milenial," ujar Anwar dalam
keterangan tertulis, Sabtu (31/7/2021).
Lebih lanjut Anwar menjelaskan seiring kemajuan informasi, teknologi dan informasi menjadi
ujung tombak perubahan berbagai bidang sosial ekonomi.
Oleh karena itu, generasi milenial harus dapat mengoptimalkan SDM dan beradaptasi dengan
kemajuan teknologi. Dengan demikian, generasi milenial dapat menjadi penerus bangsa dalam
menghadapi perubahan di berbagai bidang pembangunan.
Sementara itu, para pelaku usaha di dunia usaha dan industri dapat mengelola dan memastikan
para HR untuk sadar dengan potensi SDM milenial. Sehingga kinerja dan ketahanan perusahaan
di masa pandemi dapat terus tumbuh.
Melalui kegiatan tersebut, Anwar pun berharap para milenial dapat memperoleh inspirasi agar
dapat terus berkontribusi terhadap Indonesia.
"Melalui kesempatan ini, saya berharap acara Ngopi Daring Nasional ini menjadi program
berkelanjutan dan menjadi inspirasi bagi generasi milenial, sehingga dapat memberikan
kontribusi yang lebih luas terhadap perekonomian nasional," katanya.
Anwar menjelaskan di masa pandemi, gelombang pekerja berusia 18-30 tahun telah memasuki
angkatan kerja. Adapun kelompok kerja ini disebut kaum milenial yang identik dengan
perkembangan teknologi. Namun, kaum milenial tak mudah memastikan dapat bekerja dengan
baik di perusahaan.
Selain itu, penelitian Gallup (2016) memperlihatkan hanya 29 persen karyawan milenial yang
secara emosional dan perilaku terhubung erat dengan pekerjaan dan perusahaan. Menurut
Anwar, hal ini dapat menjadi kerugian bagi perkembangan perusahaan.
"Hal ini tentu merupakan kerugian besar bagi perusahaan, karena mereka hanya muncul di jam
kerja namun tidak memberikan yang terbaik untuk perkembangan perusahaan," ungkapnya.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, generasi milenial di dunia kerja
tercatat menempati posisi pertama dengan 33,25 persen dalam hal komposisi populasi di
Indonesia. Selanjutnya, peringkat kedua diraih oleh generasi Z (29,23 persen), dan posisi ketiga
oleh generasi X (25,74 persen), dan keempat, baby boomers (11,27 persen).
219

