Page 405 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 AGUSTUS 2021
P. 405

pengusaha diwajibkan mendaftarkan pekerjanya sebelum bantuan disalurkan, lengkap dengan
              data yang diperlukan.
              Dengan demikian, pekerja yang saat ini belum terdaftar ke BP Jamsostek juga bisa dapat subsidi.
              Kesempatan sama juga harus diberikan ke pekerja informal.

              "Ini bisa jadi kesempatan untuk memperbaiki basis data pekerja kita, formal maupun informal,
              supaya kalau ada krisis lagi, tak perlu sulit mengakses bantuan," ujarnya.

              Sementara itu, Direktur Utama BP Jamsostek Anggoro Eko Cahyo mengatakan, program subsidi
              upah  yang  berpatok  pada  data  BP  Jamsostek  menjadi  pengingat  mengenai  pentingnya
              Jamsostek. Diharapkan, ke depan, pelaku usaha lebih tertib mendaftarkan pekerjanya.

              "Dengan  menjadi  peserta,  pekerja  terlindungi  dari  risiko  kerja  dan  juga  bisa  mendapat  nilai
              tambah, seperti bantuan subsidi upah ini," ujarnya.
              Insentif tenaga kesehatan

              Terkait pembayaran insentif tenaga kesehatan, pemerintah menargetkan pada Agustus 2021
              realisasi pembayaran di daerah bisa mencapai 50 persen. Berbagai kendala yang dihadapi saat
              ini perlu segera diatasi, terutama terkait kurangnya koordinasi di antara organisasi perangkat
              daerah.

              Kementerian Keuangan mencatat, anggaran yang sudah disiapkan untuk pembayaran insentif
              tenaga kesehatan di daerah per 28 Juli 2021 sebesar Rp 8,1 triliun. Dari jumlah itu, anggaran
              yang  terealisasi  baru  Rp  2,06  triliun  atau  25,31  persen.  Bahkan,  realisasi  insentif  tenaga
              kesehatan di luar Jawa dan Bali hanya 17,29 persen.

              Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M Faqih menyampaikan,
              insentif yang belum dibayarkan itu menimbulkan kegelisahan tersendiri bagi tenaga kesehatan.
              Sejumlah isu terkait adanya sukarelawan yang mundur karena insentifnya tidak dibayarkan juga
              mulai beredar.

              "Tentu, ini merupakan hal yang manusiawi. Apalagi insentif itu sangat dibutuhkan oleh keluarga
              yang ada di belakang tenaga kesehatan. Setidaknya, jika insentif ini bisa dibayarkan dengan
              baik, tenaga kesehatan pun bisa lebih tenang dalam bertugas," tuturnya.

              Ketua Umum Dewan Pengurus Daerah Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPP PPNI) Harif
              Fadhillah  menambahkan,  berbagai  kendala  yang  menyebabkan  terlambatnya  pembayaran
              insentif  perlu  segera  diselesaikan.  Komitmen  daerah  pun  perlu  ditingkatkan,  terutama  pada
              daerah dengan realisasi anggaran untuk insentif yang rendah.

              'Teraturan  terkait  pembayaran  insentif  sudah  ada.  Anggaran  yang  dibutuhkan  pun  sudah
              tersedia. Namun, implementasinya kurang. Karena itu, pengawasan implementasi pembayaran
              insentif ini perlu ditingkatkan agar bisa segera dibayarkan," katanya.

              Direktur  Dana  Transfer  Khusus  Direktorat  Jenderal  Perimbangan  Keuangan  Kementerian
              Keuangan Putut Hari Satyaka mengungkapkan, kendala utama yang dihadapi dalam pelaksanaan
              dan pelaporan pembayaran insentif tenaga kesehatan di daerah adalah kurangnya koordinasi
              antarorganisasi  perangkat  daerah  dalam  pembayaran  dan  pelaporan  insentif.  Selain  itu,
              pemahaman daerah terhadap peraturan yang berlaku juga masih kurang. (AGE/TAN)

              Subsidi  upah  bagi  pekerja  dalam  penanganan  dampak  Covid  19  ditargetkan  tersalur  pada
              Agustus 2021. Pengusaha diminta mendaftarkan pekerjanya ke BP Jamsostek sebagai salah satu
              syarat menerima subsidi.


                                                           404
   400   401   402   403   404   405   406   407   408   409   410