Page 400 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 AGUSTUS 2021
P. 400
"Kami dalam hal ekosistem ini melakukan pembenahan di sini. Kami saat ini sedang melakukan
perbaikan pusat pasar kerja. Jadi kalau dulu pusat tenaga kerjahanya bagian dari unit, sekarang
pusat (pasar kerja) di (pegang) level eselon II yang kami dorong menjadi semacam karir hub,"
ujarnya saat dihubungi KORAN SINDO kemarin.
Asah Ketrampilan di Era Automasi
Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek Wikan Sakarinto mengatakan pihaknya telah
menerapkan kebijakan link and match, Merdeka Belajar, Kampus Merdeka, perguruan tinggi
vokasi (PTV), dan lembaga kursus pelatihan. Ditambah lagi Kemendikbudristek menciptakan
ratusan. SMK Pusat Keunggulan (SMK PK) dan Kampu Merdeka Vokasi di sekitaran kawasan
industri ekonomi khusus yang paling terdampak disrupsi 4.0.
"Siswa dan mahasiswa dibekali dengan skills dan kompetensi yang lebih inovatif dan karakter
yang lebih siap untuk bekerja pada bidang-bidang pekerjaan baru (emergingjobs).
Juga kemampuan kewirausaahan yang tangguh. Semuanya lebih menerapkan pola
pembelajaran project based learning (PBL) dan teachingfactory di masing-masing SMK dan PTV"
ujarnya kepada KORANSINDO.
Kemendikbudristek . mengklaim telah merevitalisasi satuan pendidikan seperti SMK
TeachingFactory (hilirisasi produk riset terapan ke pasar dan masyarakat), MatchingFund-
Kampus Merdeka Vokasi (hilirisasi produk riset terapan PTV yang bermitra dengan industri, lanjut
ke pasar dan pengembangan perusahaan rintisan) . Program-program ini diklaim bisa
menyediakan tenaga kerja yang siap masuk ke industri.
Pakar pengembangan SDM Irwan Prayitno mengatakan, digitalisasi dan automasi merupakan
suatu keniscayaan artinya sesuatu yang harus dihadapi tidak dapat dihindari. Penggunaan
teknologi akan memunculkan daya saing dan menghadirkan efisiensi. "Tapi kehadiran robot tidak
akan sepenuhnya menggantikan manusia di setiap bidang. Automasi terjadi di dalam sistem yang
semua sudah terkoneksi jadi bukan hanya mengandalkan robot semata," uj ar guru besar
Universitas Muhammadiyah Jakarta ini.
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, posisi
Indonesia dalam industri 4.0 masih. berada ditahap perencanaan, sama dengan Kamboja dan
Filipina. "Jadi dari keseriusan pemerintah agak terlambat untuk memberikan insentif
untukmasukke pengembangan ekonomi digital,"cetusnya.
Namun, Bhima menilai bahwa regulasi saat ini sudah mulaibanyakberbenahdan beradaptasi
dengan perubahan platform digital meskipun terlambat. Namun, di sektor industri 4.0, insentif
untuk produksi robotik belum jelas, regulasi KE K (kawasan ekonomi khusus) belum
mendukungindustri4.0; dan regulasiketenagakerjaan belum mengakomodasi jenis pekerjaan
baru;
Menurut Bhima ada tiga, komponen penting dalam 1 industri 4.0, yakni infrastruktur digital, skill
tenaga kerja, dan inovasi. Saat ini di Indonesia, ketiga kompenen ini belum, terpenuhi dengan
baik. Adapun akses internet belum merata, khususnya di kawasan industri di luar Jawa. "Skill
tenagakerja belum match dengan kebutuhan industri 4.0 di mana yang lebih dibutuhkan adalah
semi-highskilled dan highskilled labor," katanya.
Bhima menilai masih ada , catatan yang perlu diperhatikan oleh pemerintah. Fokus pemerintah
sudah ada di lima sektor industri, khususnya automotif dan kimia, tapi Making Indonesia4.0 lebih
menitikberatkan pada industri padat modal. "Sementara misi untuk akselerasi industri kedi
menengah belum terakomodasi. Idealnya industri kecil menengah masuk dalam valuechain
399

