Page 399 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 AGUSTUS 2021
P. 399
"Mereka biasanya akan dilatih lebih baik karena nantinya akan mengoperasikan perangkat atau
peralatan yang lebih bagus dan canggih. Tentunya ini sudah dipikirkan pelaku industri automotif.
Tidak otomatis begitu ada automasi bakal menggantikan tenaga manusia," cetusnya.
Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian
Perindustrian, Taufiek Bawazier mengatakan, memasuki era industri 4.0, Kementerian
Perindustrian telah merancang Making Indonesia 4.0 sebagai sebuah roadmap (peta: jalan) yang
terintegrasi. Dalam mengukur tingkat kesiapan industri .. menuju 4.0, 'Kemenperin memiliki
indeks acuan yang disebut Industry 4.0 Readiness Index (INDI'4.0)." Sampai. dengan Juli 202i
telah terdapat 775 perusahaan yang telah melakukan assessment INDI 4.0" katanya.
Menurut Taufiek, ada tujuh sektor industri yang diprioritaskan didalam program industri 4; 0,
yakni industri makanan dah minuman, tekstil dan busana, automotif, kimia, . elektronik, farmasi,
dan alat kesehatan. Ketujuh sektor ini dipilih karena dapat memberikan kontribusi sebesar 70%
dari total PDB manufaktur, 65% ekspor manufaktur, dan 60% pekerja industri. "Dalam jangka
panjang, ketujuh sektor prioritas tersebut ditargetkan bisa menjadi powerhouse ekonomi
Indonesia pada tahun 2030," ucapnya.
Peningkatan kualitas SDM dan penguasaan infrastruktur digital ini merupakan dua hal kunci
dalam kesuksesan Indonesia 4.0. Dampak positif yang umum dengan adanya automasi adalah
penciptaan lapangan pekerjaan baru yang memerlukan keahlian baru seperti data analisis dan
pekerjaan terkait teknologiartifisial.
Meskipun automasi di industri manufaktur yang ditandai dengan penggunaan robot,pemerintah
tetap menggencarkan pendidikan vokasi dan pelatihan kerja yang menyesuaikan dengan
kebutuhan industri4.0 dan bidang-bidang pekerjaan baru (emergingjobs) serta merumuskan
kurikulum dan program magang dengan dunia dunia usaha, industri, dan kerja (dudika).
Pemanfaatan teknologi informasi (TI) dan kecerdasan buatan (artificial inteligence/ AI) begitu
gencar dilakukan dunia industri dalam beberapa tahun terakhir. Keadaan ini diprediksi akain
menggerus kebutuhan tenaga kerja. Masalahnya, Indonesia memiliki sumber daya manusia
(SDM) yang banyak sehingga masih membutuhkan lapangan kerja yang membutuhkan padat
karya.
Seolah berkejaran dengan waktu, pemerintah, industri, dan angkatan kerja saling beradaptasi
dengan terus memperbaharui keterampilan yang tadinya konvensional ke arah automasi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS),angkatan kerja Indonesia pada Februari lalu
berjumlah 139,81 juta orang. Sekjen Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) Anwar Sanusi
mengatakan pihaknya telah membuat kebijakan dan program kerja yang menyelaraskan dengan
perubahan lingkungan ketenagakerjaan ini:
Pertama, Kemenaker mendorong ekosistem ketenagakerjaan yang kondusif. Dari sisi suplai, dia
menerangkan pihaknya telah melakukan perbaikan kualitas SDM. terutama menghadapi
ekosistem digital. Balai-balai latihan kerja (BLK) terus didorong melakukan transformasi yang
dulu lebih mengedepankan manual, sekarang dan ke depan harus memberikan pengetahuan
dan keterampilan tentang automasi dan TI.
Anwar mengklaim jika seluruh pusat pelatihan BLK bekerja optimal itu bisa menghasilkan sekitar
5,4 juta tenaga kerja terampil. Kedua, adanya sertifikasi sebagai bukti telah mendapatkan
pelatihan yang memadai sesuai kebutuhan industri. Sertifikasi pun dilakukan dengan bauran,
baik tatap muka maupun daring. Ketiga, Kemenaker telah memikirkan penempatan kerja bagi
para lulusan dari BLK.
398

