Page 471 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 AGUSTUS 2021
P. 471
Ketua Umum AKAR Jabar Arif Maulana mengatakan, aksi pengibaran bendera putih yang
sebelumnya direncanakan dua hari ke depan hanya untuk mencari perhatian pemerintah.
"Dengan muncul di media, gerakan bendera putih itu seperti caper cari perhatian. Nggak ada
cara lain untuk menjalin komunikasi dengan pemerintah, tapi akhirnya didengar gitu," ujarnya
saat ditemui di Kopi Jenderal, Jalan Riau, Jumat (30/7/2021).
Arif mengatakan banyak pengusaha yang lapar, hancur, dan sekarat, apalagi jika ditambah satu
bulan lagi, maka tidak akan kuat.
Arif mengatakan, selama dua bulan pasca pelarangan makan di tempat bagi usaha restoran dan
kafe, banyak usaha yang tutup karena tidak kuat menanggung biaya operasional.
Selain itu, menurut Arif, tidak semua usaha kafe dan restoran bisa menyediakan layanan pesan
antar atau take away karena kondisi makanan yang tidak memungkinkan.
Misalnya saja kata Arif, restoran yang mengusung konsep all you can eat, mie, atau grill.
"Pemerintah ingin menyelamatkan nyawa dari corona, tapi membunuh dari perut dan otak, kan
jadi stres. Jadi mau sampai kapan? ini harus bekerja sama, diskusi bersama, yuk selesaikan
bersama agar tidak menimbulkan kebijakan yang agak konyol," ujarnya.
Adanya larangan untuk makan di lokasi, dikatakan Arif secara tidak langsung mematikan usaha
ini.
Ia juga mengungkapkan, restoran miliknya mengalami kerugian akibat pelarangan dine in
berkisar Rp 1,5 hingga 2 miliar.
Dampak lainnya bagi para pengusaha saat ini adalah pengurangan karyawan atau pemutusan
hubungan kerja (PHK) sebesar 60 hingga 90 persen.
AKAR dibawah naungan PHRI Jawa Barat, sejak awl berkomitmen untuk mensukseskan program
pemerintah dalam penangan pandemi Covid-19, salah satunya dalam mensukseskan program
vaksin.
Saat ini BPD PHRI Jawa Barat khususnya Kota Bandung telah menyelesaikan vaksinasi sebanyak
12.000 karyawan hotel dan restoran, dimana jumlah itu meliputi 95% dari seluruh anggota PHRI
yang berada di Kota Bandung. (*)
470

