Page 484 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 484

Dia menegaskan, penyusunan klaster ketenagakerjaan memperhatikan hasil putusan Mahkamah
              Konstitusi atas uji materi UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan.
              Tentang berbagai substansi yang ditentang Serikat Buruh, Menaker mengatakan, UU Cipta Kerja
              mengatur syarat-syarat dan perlindungan hak bagi pekerja/buruh kontrak atau perjanjian kerja
              waktu tertentu (PKWT) yang menjadi dasar dalam penyusunan perjanjian kerja. UU Cipta Kerja
              juga  mengatur  perlindungan  tambahan  berupa  kompensasi  kepada  pekerja/buruh  pada  saat
              berakhirnya PKWT.

              Syarat-syarat dan perlindungan hak bagi pekerja/buruh dalam kegiatan alih daya (outsourcing)
              masih  tetap  dipertahankan.  Bahkan  RUU  Cipta  Kerja  memasukkan  prinsip  pengalihan
              perlindungan hak-hak bagi pekerja/buruh apabila terjadi pergantian perusahaan alih daya.

              Ihwal ketentuan waktu kerja dan waktu istirahat, kata Ida, tetap diatur seperti UU 13/2003 dan
              menambah ketentuan baru mengenai pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat pada sektor
              usaha  dan  pekerjaan  tertentu.  Hal  ini  untuk  mengakomodasi  tuntutan  perlindungan
              pekerja/buruh pada bentuk-bentuk hubungan kerja dan sektor tertentu yang di era ekonomi
              digital saat ini berkembang secara dinamis.

              RUU  Cipta  Kerja  tetap  mengatur  hak-hak  dan  perlindungan  upah  bagi  pekerja/buruh
              sebagaimana  peraturan  perundang-undangan  yang  ada  (UU  13/2003  dan  PP  78/2015)  dan
              selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Pemerintah yang baru.

              Tetap Dipertahankan  Menaker Ida Fauziyah menambahkan, terdapat penegasan variabel dan
              formula dalam penetapan upah minimum berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Selain
              itu, ketentuan mengenai Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) tetap dipertahankan. UU Cipta
              Kerja juga menghapus ketentuan mengenai penangguhan pembayaran upah minimum.

              Dalam rangka perlindungan kepada pekerja/buruh yang menghadapi proses PHK, UU Cipta Kerja
              tetap mengatur ketentuan mengenai persyaratan dan tata cara PHK. UU tetap memberikan ruang
              bagi  Serikat  Pekerja/Serikat  Buruh  dalam  memperjuangkan  kepentingan  anggotanya  yang
              sedang mengalami proses PHK.

              Kemudian dalam rangka memberikan jaminan sosial bagi pekerja/buruh yang mengalami PHK,
              RUU Cipta Kerja mengatur ketentuan mengenai program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP)
              yang manfaatnya berupa uang tunai, akses informasi pasar kerja dan pelatihan kerja.

              Menaker  menyatakan,  agar  serikat  buruh  bisa  menerima  UU  Cipta  Kerja,  pihaknya  akan
              mengintensifkan  dialog  dengan  pemangku  kepentingan,  utamanya  unsur  pekerja/buruh  dan
              pengusaha  dengan  dibantu  jejaring  kementerian/lembaga  terkait  serta  pemerintah  daerah,
              khususnya dinas-dinas yang membidangi urusan ketenagakerjaan di daerah.

              "Selain  itu,  kami  segera  menyusun  peraturan  pelaksanaan  UU  Cipta  Kerja  dalam  bentuk
              Peraturan Pemerintah dan peraturan lain dibawahnya untuk meyakinkan kepada pekerja/buruh
              bahwa  amanat  perlindungan  terhadap  hak-hak  pekerja/buruh  sebagaimana  diatur  dalam  UU
              Cipta Kerja dapat segera dijalankan," kata Ida.

              Editor :  Abdul Aziz  (abdul_aziz@investor.co.id).











                                                           483
   479   480   481   482   483   484   485   486   487   488   489