Page 479 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 479

Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati menyatakan, DPR dan
              pemerintah sebetulnya dapat membatalkan pemberlakuan UU Cipta Kerja.
              Dia  mencontohkan,  DPR  dan  pemerintah  pernah  mencabut  UU  Nomor  25/1997  tentang
              Ketenagakerjaan dan menunda RUU Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (PPHI) dan
              Rancangan Undang-undang Pembinaan dan Perlindungan Ketenagakerjaan (PPK).

              Saat  itu,  UU  Nomor  25/1997  dicabut  karena  mendapatkan  penolakan  pengusaha  dan
              pekerja/buruh.

              Sebelum  UU  itu  akhirnya  dicabut,  pemerintah  dua  kali  mengeluarkan  peraturan  pemerintah
              pengganti undang-undang (Perppu) pada 1998 dan 2000 yang isinya menunda pemberlakuan
              UU Ketenagakerjaan Nomor 25/1997.

              Menurut UU 12/2011, Perppu dapat ditetapkan presiden dalam hal ihwal kegentingan memaksa.
              Asfin berpendapat, kewenangan ini bisa saja dilakukan apabila presiden menghendaki.

              "Bisa pakai jalur UU 25/1997, tidak pernah diberlakukan. Perppu atau UU hanya medium," ujar
              Asfin.

              Sementara itu, Puan Maharani mengatakan, pintu bagi masyarakat memperbaiki UU Cipta Kerja
              tetap terbuka.
              Menurut dia, jika ada pasal-pasal yang dianggap merugikan, masyarakat dapat menguji UU Cipta
              Kerja sesuai ketentuan perundang-undangan.

              Misalnya, mengajukan judicial review terhadap UU Cipta Kerja melalui Mahkamah Konstitusi (
              MK).

              Berdasarkan UU 12/2011, suatu UU yang diduga bertentangan dengan UUD 1945 dapat diuji
              melalui Mahkamah Konstitusi.

              "Sebagai  negara  hukum,  terbuka  ruang  untuk  dapat  menyempurnakan  UU  tersebut  melalui
              mekanisme yang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan," ujar Puan

              Elemen buruh pertimbangkan uji ke MK

              Elemen  buruh  tengah  mempertimbangkan  akan  melakukan  judicial  review  atau  uji  materi
              terhadap UU Cipta Kerja ke MK.

              Wakil Ketua Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) Jumisih menuturkan, pertimbangan
              uji  materi  tersebut  merupakan  salah  satu  langkah  litigasi  dalam  melanjutkan  perlawanan
              menolak UU Cipta Kerja.
              "Tidak  menutup  kemungkinan  bakal  melakukan  judicial  review.  Judicial  review  menjadi
              penekanan kami saat ini," ujar Jumisih saat dihubungi, Selasa (6/10/2020).

              Adapun pertimbangan judicial review tersebut berangkat dari adanya deretan pasal-pasal yang
              mengurangi hak pekerja.

              Misalnya, penghapusan aturan mengenai jangka waktu perjanjian waktu kerja tertentu (PKWT)
              atau pekerja kontrak.

              Selain itu, pertimbangan gugatan uji materi ini juga karena pemerintah dan DPR tidak melibatkan
              peran publik selama proses pembahasan RUU Cipta Kerja dilakukan.

              Untuk itu, gugatan uji materi ini akan dilakukan baik dari sisi formil maupun materiil.
                                                           478
   474   475   476   477   478   479   480   481   482   483   484