Page 475 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 475

"Mereka melihat kalau kepentingan dan suara mereka sama sekali kurang diperhatikan. Kaum
              buruh, yang saat ini berada dalam posisi sulit akibat  Covid-19  , posisinya jadi kian terpojok,"
              kata Anggota Komisi I DPR itu.

              Dalam catatannya, kata Fadli, ada beberapa isu yang memang mengusik rasa keadilan buruh.

              Misalnya, skema pesangon kepada pekerja yang di-PHK diubah dari sebelumnya 32 bulan upah,
              kini menjadi 25 bulan upah.

              Kemudian,  penghapusan  UMK  (Upah  Minimum  Kabupaten)  menjadi  UMP  (Upah  Minimum
              Provinsi).

              Padahal, kata Fadli, menurut data lapangan, besaran UMP pada umumnya adalah di bawah UMK.

              "Sehingga, alih-alih meningkatkan kesejahteraan buruh, omnibus law ini belum apa-apa sudah
              akan menurunkan kesejahteraan mereka," ujar Fadli.

              Selain itu, Fadli juga melihat hak-hak pekerja yang sebelumnya dijamin, seperti hak istirahat
              panjang, uang penghargaan masa kerja, serta kesempatan untuk bekerja selama 5 hari dalam
              seminggu, kini tidak ada lagi.

              "Sehingga, secara umum, omnibus law ini memang tak memberi rasa keadilan, bukan hanya
              buat buruh, tapi juga buat masyarakat secara umum," ucapnya.
              Merasa dipermainkan  Ketua Lembaga Pendidikan (LP) Maarif Nahdatul Ulama (NU) Arifin Junaidi
              mengaku kecewaa atas masuknya klaster pendidikan dalam UU Cipta Kerja.

              Arifin mengatakan pihaknya sempat dijanjikan Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda bila klaster
              pendidikan bakal dihapus dari draft RUU Cipta Kerja.

              Namun, nyatanya setelah disahkan klaster pendidikan masih ada di dalam  UU Cipta Kerja  .
              "Sebelumnya Ketua Komisi X DPR sudah menyampaikan kepada kami, melalui masyarakat bahwa
              soal pendidikan ini di-drop dari UU Cipta Kerja. Tapi ternyata masih tetap ada, karena itu kami
              tentu  sangat  kecewa.  Kami  merasa  dipermainkan,"  ucap  Arifin  saat  dikonfirmasi,  Selasa
              (6/10/2020).
              "Jadi  saya  tidak  tahu  ini,  rezim  apa  ini,  menganggap  pendidikan  sebagai  komoditas  yang
              diperdagangkan begitu," tambah Arifin.

              Arifin  mengatakan  tidak  selayaknya  kegiatan  pendidikan  ditujukan  untuk  memperoleh
              keuntungan.

              Menurutnya, pasal 65  UU Cipta Kerja  mengarahkan kegiatan pendidikan menjadi upaya mencari
              laba karena terdapat aturan perizinan usaha.

              "Masa bunyinya pasal 65 itu pelaksanaan pendidikan dapat dilakukan melalui perizinan berusaha.

              Di dalam undang-undang itu izin usaha sama dengan izin usaha. Jadi ada upaya mencari laba,"
              kata Arifin.

              Padahal selama ini, Arifin mengatakan LP Maarif NU tidak pernah mengejar keuntungan dalam
              menjalankan pendidikan.

              Menurut Maarif, aturan pada  UU Cipta Kerja  mensyaratkan izin usaha untuk pembukaan sekolah
              yang mengarah pada pencarian laba.



                                                           474
   470   471   472   473   474   475   476   477   478   479   480