Page 493 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 493

Terpisah,  Menteri Ketenagakerjaan  (Menaker)  Ida  Fauziyah  menilai  aksi  turun  ke  jalan yang
              dilakukan  serikat  buruh/  pekerja  tidak  relevan.  Pasalnya,  semua  aspirasi  yang  disampaikan
              olehmereka telah diakomodasi semaksimal mungkin dalam UU Ciptaker

              Karenanya, dia berharap, para pekerja/buruh mau meluangkan waktu untuk membuka kembali
              dan mencermati UU tersebut "Banyak berita beredar di teman-teman pekerja atau buruh jauh
              dari  kenyataannya.  Apa  yang  jadi  tuntutan  teman-teman  pekerja  atau  buruh  sudah
              diakomodaasi," ujarnya.

              Ia menegaskan, bahwa proses penyusunan RUU Ciptaker sejatinya telah melibatkan partisipasi
              publik  Baik  itu  unsur  pekerja/buruh  yang  diwakili  serikat  pekerja/serikat  buruh,  pengusaha,
              kementerian/ lembaga, praktisi, akademisi dari, hingga lembaga lainnya, seperti International
              Labour Organization (ILO). Sehingga, bisa diartikan bahwa rumusan klaster ketenagakerjaan
              yang ada dalam RUU Cipta Kerja saat ini merupakan inti sari dari hasil kajian pakar/ahli, focus
              group discussion (FGD), Rembug Tripartit (pemerintah, pekerja/ buruh dan pengusaha) yang
              sejak lama dilakukan atas beberapa materi ketenagakertjaanyang krusial.

              Bahkan, kata dia, pada saat RUU Cipta Kerja telah masuk dalam tahap pembahasan di DPR,
              pemerintah melakukan kembali pendalaman rumusan klaster ketenagakerjaanyang melibatkan
              pengusaha (Apindo) dengan perwakilan Konfederasi Serikat Pekerja/Serikat Buruh sesuai arahan
              presiden pada 24 April 2020. Dalam pertemuan tersebut, pemerintah banyak menerima masukan
              dari serikat pekerja/ serikat buruh
              "Dengan proses yang telah dijalankan ini, pemerintah telah dengan seksama menyerap berbagai
              aspirasi, khususnya dari unsur pekerja/buruh," ungkapnya.

              Ida mengakui, bahwa dalam proses penyusunan RUU Ciptaker, terdapat perbedaan pandangan
              pro-kontra.  Menurutnya,  ini  hal  yang  wajar  dalam  dinamika  sosial  dan  demokrasi.  Namun
              demikian, pada akhirnya pemerintah harus memutuskan dan menyiapkan draf yang akan dibahas
              bersama DPR. Lagi pula, proses pembahasan RUU Ciptaker antara Pemerintah dan DPR berjalan
              secara  transparan.  Bahkan  untuk  pertama  kalinya  pembahasan  suatu  RUU  dilakukan  secara
              terbuka dan disiarkan melalui kanal-kanal media sosial yang tersedia. "Hal ini dimaksudkan agar
              publik dapat mengawal proses pembahasan RUU Cipta Kerja secara seksama," katanya.

              Selanjutnya,  mengenai  sejumlah  tuntutan  pekerja/buruh  soal  PKWT  seumur  hidup,
              outsourching, jam kerja eksploitatif higga hak cuti, Menaker memastikan bahwa penyusunan
              ketentuan klaster ketenagakerjaan memperhatikan hasil putusan Mahkamah Konstitusi atas uji
              materi  UU  13/2003.  Kemudian,  ketentuan  mengenai  sanksi  ketenagakerjaan  dikembalikan
              kepada UU 13/2003.

              Soal  PKWT,  dia  mengatakan,  bahwa  RUU  Ciptaker  tetap  mengatur  syarat-syarat  dan
              perlindungan hak bagi pekerja/buruh PKWT. Di mana, hal tersebut yang menjadi dasar dalam
              penyusunan perjanjian kerja.

              "Di samping itu, RUU Cipta Kerja mengatur perlindungan tambahan berupa kompensasi kepada
              pekerja/buruh pada saat berakhirnya PKWTT tegasnya.

              Kemudian untuk kegiatan alih daya (outsourcing), lanjut dia, syarat-syarat dan perlindungan hak
              bagi  pekerja/buruh  masih  tetap  dipertahankan.  Bahkan  RUU  Ciptaker  memasukkan  prinsip
              pengalihan  perlindungan  hak-hak  bagi  pekerja/  buruh  apabila  terjadi  pergantian  Perusahaan
              AlihDaya Hal ini sesuai dengan amanat putusan Mahkamah KonstitusiNa 27/PUU-K/2011.

              "Kemudian dalam rangka pengawasan terhadap perusahaan alih daya, RUU Cipta Kerja juga
              mengatur syarat-syarat perizinan terhadap perusahaan yang terintegrasi dalam sistem Online
              Single Submission (OSS)," jelas politikus PKB tersebut.


                                                           492
   488   489   490   491   492   493   494   495   496   497   498